Merdeka
o, bendera yang kibar di tubuhku
usia kita adalah sebatang tiang
dan hembusan udara
2008
Merdeka
o, bendera yang kibar di tubuhku
usia kita adalah sebatang tiang
dan hembusan udara
2008
Ditulis dalam Sajak
Hujan mulai turun di Bandung, meski belum lebat.
Ditulis dalam Catatan Harian
04/08/08 15:10
Penulis Gulag Rusia, Solzhenitsyn, Wafat dalam Usia 89 Tahun
Moskow (ANTARA News) – Penulis dan pembangkang Rusia, Alexander Solzhenitsyn, yang namanya bersinar di dunia kejam dan bengis di Kepulauan Gulag milik Uni Sovyet, meninggal dunia Minggu malam, kantor berita Itar-Tass menyatakan, mengutip putranya, Stepan.
Ia menutup mata untuk selamanya dalam usia 89 tahun.
Pemenang Hadiah Nobel itu meninggal dunia akibat serangan jantung di rumahnya di Moskow pada pukul 11:45 malam atau 02:45 WIB Senin, kata putra penulis besar Rusia itu, seperti dilaporkan AFP.
Solzhenitsyn memenangi Hadiah Nobel Kesusatraan pada 1970 setelah menulis pengalaman mengerikan dalam kamp kerja paksa Sovyet, tempat dia pernah mendekam selama delapan tahun dari 1945.
Ia diusir dari Uni Sovyet pada 1974.
Sekembalinya ke Rusia pada 1994, ia menjadi sangat kritis terhadap Barat dan evolusi pasca-Sovyet di Rusia, dengan menyerukan dikembalikannya nilai-nilai moral tradisional.
Karya utama Solzhenitsyn adalah “The Gulag Archipelago” pada 1973, yang melukiskan tahun-tahun penuh teror gaya Stalin dengan menggunakan ribuan detail dan kasus-kasus individual. (*)
COPYRIGHT © 2008
Ditulis dalam Catatan Harian
Wapress (Warung Apre
siasi Seni), Rabu, 30 Juli 2008, Paguyuban Sastrra Rabu Malam (PaSaR Malam) menyelenggarakan agenda rutin Reboan #4 dengan tema “Merayakan Kenangan”. Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB pada malam itu dihadiri berbagai pegiat dan apresiator sastra dari berbagai kalangan. Mereka yang hadir menyaksikan Reboan PaSar Malam pada malam itu antara lain, Medy Loekito, Endo Senggono, Diah Hadaning, Irman Syah dan banyak lagi. Dan para penampil di panggung Wapress pada malam itu adalah, Matdon, Elex Yo Ben, The Strangers, Epri Tsaqib, Teguh Esha, Aryyamilin, Nana S, dan Sihar Ramses Simatupang. Sementara Doni Anggoro dan Dharmadi pada kesempatan itu meluncurkan karya terbaru mereka. Saya sendiri tampil membacakan tiga karya pada malam itu dengan iringan Tarawangsa yang dimainkan dari peralatan multimedia milik Elex Yo Ben. Berikut tiga sajak yang saya bacakan:
Venus
wahai, kau pemilik kecantikan
tunjukan dengan isyarat matamu
arah menuju kota matahari
telah sekian lama
aku menempuh koordinat asal cahaya
tapi belum juga sampai
ke tempat muasal peradaban
paling terhormat itu
demi tanah yang telah melahirkan
dan akan merawat mautku
aku mencari-cari cara keluar
lewat penglihatan jiwaku
dari lembah-lembah gelap
di negeri muslihat
para penyihir cuaca ini
kau, yang merestui kesuburan
alirkanlah kasih dari telaga hatimu
ke sawah-sawah kisah
karena itulah makna cinta
yang dimengerti para petani
seperti aku mencoba memahami
caramu merawat bumi
yang terus didera bencana
juga dibedil tentara
barangkali di kota matahari
di mana segalanya nampak terang
aku tak akan menemukan merah darah
menetes dari kepala bocah
atau wajah-wajah marah
di istana-istana kardus
menahan amarah yang lapar
atas nama cinta
kukorbankan kesetiaan pada dunia
yang ramai oleh aroma wewangian
juga warna kemuliaan
dan akan kutemui kau
di kota matahari
sebelum semuanya jadi sangat gelap
2007
Aku Bergegas Menujumu
pada jalan menujumu
aku bergegas layaknya sungai
yang dipaksa cuaca sampai ke laut
lalu merangkak ke langit
dan sebagai hujan harus kembali
basah di bumi
garis-garis pada tanah kering
seperti wajahmu yang terus tua, kekasihku
adalah ilustrasi jutaan tahun bumi berputar
juga kubur-kubur itu tempat maut kita
kemarau turun dari pohon-pohon dewasa
bagai daun-daun lelah
barangkali mereka semacam kita
terkadang butuh waktu istirahat
kupungut satu daun paling regas
kusimpan dalam saku untuk kuberikan padamu
sebagai bukti bahwa begitu panjang jalan
yang harus kutempuh
untuk sampai padamu, kekasihku
pada jalan menujumu
bukit-bukit mulai dikikis
tidak ditanami lagi tumbuhan
melainkan ditumbuhi tangga-tangga tinggi
menjulang ke langit
melebihi menara-menara sunyi rumah tuhan
di bawah terik matahari
di dalam lembab
udara menghembuskan nafas
seperti manusia yang udzur
begitulah langkahku, kekasihku
tapi yakinlah dan tunggulah setia
karena aku bergegas menujumu
2007
Tarawangsa
sampurasun, dewi
kami datang padamu hari ini
membawa segenggam padi
juga dua helai dawai nadi
inilah saat menikmati hasil peluh
di leuit sabit telah kami basuh
demi purnama semalam penuh
hingga tiba subuh
dewi, di hidup kami
kotakan sawah adalah bumi
dan sehampar mimpi
yang ingin terus dimiliki
sementara air tanah kami
adalah kasihmu yang tak usai-usai
bagi setiap kelahiran bayi
dalam cuaca yang berganti-ganti
dewi, malam ini kami tak akan tidur
sebelum tiba tanda dari timur
sebagai petunjuk dari leluhur
untuk kembali asah cangkul
2008
Terimakasih kepada Johannes Sugianto, Jonathan Rahardjo, Budi Setyawan, dan kawan-kawan Wapress yang telah mengundang saya tampil pada Reboan#4. Matdon, penyair Bandung, yang kumisnya sudah cukup untuk standar foto Pilkwalkot (haha…) tapi tetap berjiwa muda. Kru Wapress Bulungan, dan Elex Yo Ben yang telah mendukung pembacaan sajak saya.
Maju terus PaSaR Malam!
Salam
Yopi Setia Umbara
Ditulis dalam Catatan Harian
dangdut di laut
lembut gelombang selat sunda
goyang kapal feri yang kaku melaju
di geladak matahari merak-bakauheni tua
keramaian pasar sepekak sirine
di tengah gelap samudera meraung
angin utara adalah alunan seruling
ditiup desir darah
seirama bunyi gendang mesin uap
ditabuh degup jantung
membuatku turut berjoget
ikuti lagu dangdut laut memabukan
dan orang-orang seperti kata-kata
minta dipilih kusawerkan ke panggung
saat perjalanan tampil sebagai penyanyi
dengan cengkok juga rok mini menggoda
yang menambah teler sajak
2008
Ditulis dalam Sajak