Alasan untuk Sebuah Ciuman

Cerita

Alasan untuk Sebuah Ciuman

 

Perlukah alasan untuk sebuah ciuman? Bukankah sesuatu yang tiba-tiba, bisa terjadi tanpa alasan?

Ciuman itu pun telah terjadi lama sekali. Ciuman bibirku dan bibirnya.

"Butuhkah Sebuah Alasan?" pencil on paper karya Rizqi Nur Amalliah

Ciuman yang tiba-tiba terjadi ketika percakapan kami di sebuah ruang yang sepi mendadak buntu. Baca tulisan ini lebih lanjut

Panggilan Terakhir

Cerita

Panggilan Terakhir

"Panggilan Terakhir" pencil on paper karya Rizqi Nur Amalliah

"Panggilan Terakhir" pencil on paper karya Rizqi Nur Amalliah

Nama saya tidak terlalu penting. Sebab saya tidak akan menceritakan diri saya di sini.

Begitu juga dengan tempat kejadian. Lantaran bisa terjadi di mana saja.

Pada suatu malam, lewat tengah malam tepatnya, tiba-tiba telepon genggam saya berdering.

Di layar telepon genggam hanya muncul nomor telepon, tanpa nama. Saya ragu-ragu untuk menjawabnya.

Ketika menimbang-nimbang untuk menjawab, panggilan itu berakhir tanpa sempat saya jawab terlebih dahulu. Baca tulisan ini lebih lanjut

Cerah (Bandung Inikami Orcheska)

Pencerahan ala Bandung Inikami Orcheska

Oleh Yopi Setia Umbara

Get Ska

Bandung Inikami Orcheska (BIO) sebuah band yang mengusung third wave ska juga kental dengan irama jazz semacam The Mighty-Mighty Bosstones, Reel Big Fish, Save Ferris, dan Sublime, pada pertengahan Desember (18/12/2011) merilis Extended Play (EP) pertama mereka yang diberi tajuk Get Ska (Produksi Whitecat Liar Record).

Dalam EP Get Ska, BIO menyajikan lima buah lagu yang tak hanya menunjukan kemampuan dari segi musikalitas belaka. Tapi, lebih dari itu mereka juga tampak berupaya untuk menyajikan lirik yang bermakna bagi para penikmat musik, khususnya yang menggandrungi ska. “Cerah” yang menjadi single pertama mereka, merupakan salahsatu lagu yang menunjukan keseriusan mereka dalam menggarap lirik.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Sepasang Ciuman

Sepasang Ciuman dalam Hujan

dalam deras hujan di antara gelegar halilintar
yang terus bersahut-sahutan. kita berpelukan
gemetar bukan karena dingin. tapi ketakutan
dibayangi perpisahan. tentu sangat menyiksa
ketika jadi rindu. lalu tanpa ragu-ragu kita
saling mencium. seperti tak mungkin ada lagi
kesempatan. mempersembahkan sepasang
ciuman bagi pemilik waktu yang paling kudus

2011

Di Bordes Harina

di bordes yang jadi penyambung sekaligus
juga sebagai pemisah gerbong baja. sunyi
di atas kereta yang terus melaju. menjauh Baca tulisan ini lebih lanjut

Saimun, Senja Di Jakarta

Saimun, Senja Di Jakarta
Oleh Yopi Setia Umbara

jilid muka

jilid muka

 

Membaca Senja Di Jakarta karya Mochtar Lubis di antara keramaian berita, mulai dari kasus korupsi yang melibatkan mantan bendahara partai demokrat hingga kasus pembunuhan petani di Mesuji, Lampung, tentu membuat saya terseret agak menjauh dari realitas yang heboh jadi pembicaraan. Senja Di Jakarta yang saya baca kembali merupakan cetakan kedua yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada tahun 2009.

Tokoh-tokoh yang hadir dalam novel dengan sembilan sub judul yang merupakan nama bulan, mulai dari Mei hingga Januari, adalah yang sangat menarik perhatian saya. Setiap tokoh yang diceritakan oleh orang ketiga tersebut seolah-olah diciptakan oleh Mochtar Lubis sebagai representasi dari lingkungan dan status sosialnya masing-masing. Salah satu tokoh yang paling menarik perhatian saya adalah tokoh Saimun. Baca tulisan ini lebih lanjut

Sekilas “Riwayat Negeri Debu”

Sekilas Riwayat Negeri Debu
Oleh Yopi Setia Umbara

jilid muka Riwayat Negeri Debu
Ketangkasan Jefta H. Atapeni dalam merekonstruksi pengalaman juga kedalaman pengetahuan, membuat puisi-puisinya begitu kaya referensi dan tentu saja nikmat untuk dihayati. Dalam antologi puisi Riwayat Negeri Debu (Kiara Publishing, 2011) ia menunjukan pula bagaimana keintimannya dengan bahasa. Kelihaiannya memadukan pengalaman dan kemampuannya berbahasa, menjadikan puisi-puisinya bukan sekadar pengalaman yang ditulis ulang. Melainkan, menjadi sebuah karya yang memiliki nilai estetis.

Di dalam setiap pengalaman Kakak Jefta yang kemudian berbunga puisi, ia menyuguhkan renungan-renung

Baca tulisan ini lebih lanjut

Membaca “Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku” Mardi Luhung

Jika Anda mencari cerpen yang menyitir persoalan sosial, namun dituturkan dengan menyenangkan dan tidak membuat Anda merasa pusing. Maka, kumpulan cerpen Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku (Komodo Books, 2011) karya Mardi Luhung boleh jadi salah satu pilihan yang menarik. Mardi menyajikan sekumpulan cerita yang perhatiannya tidak hanya dipusatkan pada tokoh, penokohan, dan alur semata. Tetapi, Mardi akan senantiasa membiarkan Anda larut dalam suasana cerpen-cerpennya.

Selama ini Mardi Luhung lebih dikenal sebagai penyair daripada seorang cerpenis. Bahkan, lewat antologi puisi Buwun ia meraih Anugrah Khatulistiwa Literary Award 2010. Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku merupakan buku kumpulan cerpen pertama Mardi. Dalam buku ini, Mardi memamerkan kebolehannya membangun suasana lewat ketangkasannya Baca tulisan ini lebih lanjut

Catatan Setelah Membaca Novel Bongkok

Catatan setelah Membaca Novel Bongkok*
Oleh Yopi Setia Umbara

Membaca bagianSampul depan Medulla Sinculasis: Suatu Hari Di Bulan Desember pertama novel Medulla Sinculasis: Suatu Hari Di Bulan Desember (IruS, 2011) yang diberi sub judul “Bohemian Project”, saya mengira bahwa novel ini akan disesaki oleh fragmen-fragmen percintaan yang liar dan imajinatif. Bagaimana saya tidak mengira seperti itu, pada fragmen awal saja, Nuruda Fahbrani (kemudian lebih sering disebut Nuruda), terbangun dari tidurnya di salahsatu kamar sebuah cottage di dekat Pantai Malimbu dalam keadaan bugil, setelah semalaman hingga pagi ia terlibat percintaan dengan perempuan yang bukan istrinya.

Namun, perkiraan awal saya itu sangat jauh meleset setelah membaca keseluruhan isi novel yang disusun dalam lima bagian ini. Pada kenyataannya, novel ini justru lebih banyak mengamati dan mengomentari berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya, bahkan prilaku religi bangsa ini, khususnya di wilayah Pulau Lombok Baca tulisan ini lebih lanjut

Apresiasi Puisi Nietzsche

(Pikiran Rakyat, Minggu, 3 Oktober 2010)

Apresiasi Puisi Nietzsche


Setelah sukses dengan seri puisi Jerman I-V, Berthold Damshäuser dan Agus R. Sarjono, kini kembali meluncurkan projek penerbitan buku puisi Jerman-Indonesia pada Senin, 27 September 2010. Kali ini, antologi seri puisi Jerman VI Syahwat Keabadian (Komodo Books, September 2010) karya Friedrich Nietzsche diluncurkan di Goethe Institut Bandung Jalan L.L.R.E. Martadinata.

Pada malam itu, selain membahas antologi seri puisi Jerman VI Syahwat Keabadian, Berthold Damshäuser dan Agus R. Sarjono, yang merupakan penerjemah dan editor seri puisi Jerman itu, juga tampil membacakan beberapa puisi karya Nietzsche. Berthold membacakan karya Nietzsche yang di antaranya dengan bahasa aslinya Jerman. Sementara Agus R. Sardjono membacakan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Baca tulisan ini lebih lanjut

Kamar

Saat Kita Telanjang

kamar adalah tempat saat kita dapat sangat dekat
telanjang tanpa kebohongan. yang biasa melekat
menutup tubuh lugu. memaksa kita jadi orang lain
karena setiap pakaian. tak pernah bermakna kejujuran
maka, di sinilah kau dan aku. bisa membuka segala
yang tersembunyi dalam diri. kemudian sama-sama
memahami bentuk-bentuk. kehidupan yang lucu Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.