Catatan Setelah Membaca Novel Bongkok

Catatan setelah Membaca Novel Bongkok*
Oleh Yopi Setia Umbara

Membaca bagianSampul depan Medulla Sinculasis: Suatu Hari Di Bulan Desember pertama novel Medulla Sinculasis: Suatu Hari Di Bulan Desember (IruS, 2011) yang diberi sub judul “Bohemian Project”, saya mengira bahwa novel ini akan disesaki oleh fragmen-fragmen percintaan yang liar dan imajinatif. Bagaimana saya tidak mengira seperti itu, pada fragmen awal saja, Nuruda Fahbrani (kemudian lebih sering disebut Nuruda), terbangun dari tidurnya di salahsatu kamar sebuah cottage di dekat Pantai Malimbu dalam keadaan bugil, setelah semalaman hingga pagi ia terlibat percintaan dengan perempuan yang bukan istrinya.

Namun, perkiraan awal saya itu sangat jauh meleset setelah membaca keseluruhan isi novel yang disusun dalam lima bagian ini. Pada kenyataannya, novel ini justru lebih banyak mengamati dan mengomentari berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya, bahkan prilaku religi bangsa ini, khususnya di wilayah Pulau Lombok yang menjadi sebagian besar latar cerita. Lantaran, kisah percintaan tidak menjadi porsi cerita yang dominan. Nuruda, il protagonista dalam karya Paox Iben ini, lebih cenderung memusatkan energinya pada persoalan-persoalan yang telah disebutkan tadi.

Dengan bergaya realis, novel ini menyajikan pengamatan yang sangat kritis terhadap proses pembangunan di negeri ini. Pembangunan yang tentu saja melibatkan berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, pengusaha sebagai investor, dan tentu saja rakyat. Akan tetapi, pada prosesnya pembangunan itu seperti berjalan murung, dan tidak menjanjikan kesejahteraan pada rakyat. Segala keuntungan pembangunan itu, dalam pandangan narator novel ini, hanya dirasakan oleh para investor dan penguasa saja. Sementara rakyat tetap terperangkap dalam tempurung kebodohan dan jerat kemiskinannya.

Fakta tersebut menguak dalam novel ini dengan latar belakang yang beralasan, setidaknya bagi sang novelis. Memilih Nuruda yang pada mulanya aktivis Ornop (organisasi non pemerintah) dengan jaringan internasional. Namun kemudian frustasi dengan kenyataan, bahwa lembaga tempatnya bekerja tersebut tidak lebih daripada menguntungkan korporasi yang menjadi donor mereka saja. Hingga ia memutuskan keluar dari lembaga tempatnya bekerja, selain bertentangan dengan bosnya sendiri.

Pasca meninggalkan pekerjaan, di lembaga yang memberinya gaji sama dengan gaji seorang manajer bank swasta nasional itu, kemudian Nuruda hijrah ke Pulau Lombok. Tujuan dari Jakarta ke Lombok adalah untuk menemui seorang pelukis, yang dilatarbelakangi perjalanannya ke eropa hingga menyaksikan lelang lukisan untuk bantuan dana pemulihan bencana tsunami Aceh, di Den Haag, Belanda. Pada lelang lukisan itu Nuruda terpana oleh sebuah lukisan yang terjual seharga 300.000 Euro.

Lukisan itu berjudul “Medulla Sinculasis”, dan Husin Nanang adalah pelukis yang karyanya terjual sangat mahal itu. Medulla Sinculasis berasal dari istilah kedeokteran Medulla spinalis, yang kurang lebih merupakan tumor pada bagian tulang belakang manusia. Figur dalam lukisan itu pun adalah, seorang lelaki bongkok sedang tersnyum dengan penis menjuntai. Bagi Nuruda, lukisan itu seolah-olah berbicara banyak kepadanya.

Pada suatu kesempatan, Nuruda akhirnya sampai di Lombok, berwisata dan menyewa kamar di sebuah cottage. Hingga rasa cintanya diam-diam tumbuh terhadap Pulau di Provinsi Nusa Tenggara Barat itu. Ia pun memilih menetap di salahsatu sudut kota, dan tinggal di sebuah kontrakan butut. Di sana ia kemudian berkenalan dengan orang-orang yang terjerat kemiskinan, kesepian, bahkan dengan orang-orang yang rakus. Kemudian masa-masa ketegangan dalam hidup Nuruda seolah-olah terus berdatangan.

Berbekal kemampuan mengorganisasikan masyarakat selama bekerja di LSM, ia pun tergerak untuk menggalang sebuah gerakan. Gerakan yang ia mulai dengan jalur kesenian. Ia mengumpulkan beberapa orang yang telah dikenalnya untuk diberdayakan dengan meminjam sebuah gedung milik seorang Belanda untuk merintis sebuah galleri. Tapi apa mau dikata, sebelum upaya pemberdayaan itu betul-betul terbangun, Nuruda telah dijadikan target operasi oleh suatu pihak, lantaran tulisan dan wawancaranya di media massa mengenai rencana eksplorasi minyak bumi di daerah Satonda.

Pada suatu hari di bulan Desember, sebelum rencananya terealisasi, ia tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas yang telah direkayasa oleh pihak yang tidak suka atas kecerewetan Nuruda terhadap lingkungan.

Potensi novel ini saya kira luar biasa. Mulai berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya, hingga latar cerita yang sangat eksotis. Namun sayangnya, libido novelis untuk mengorek borok-borok persoalan akut beserta segala teori konspirasinya itu membuat narasi novel ini sering terganggu. Saya sendiri, sebagai pembaca terkadang kebingungan dengan loncatan narasi novelis. Pertukaran posisi antara narator dan tokoh begitu saru. Saya selalu kesulitan memilah sudut pandang tokoh dan narator yang serba tahu itu.

Mungkin ini adalah gaya baru penulisan sebuah novel. Ketika saya membaca narasi sang narator, saya seperti sedang menghadapi lembaran esai yang diselipkan dalam sebuah karya fiksi. Baiklah, jika ini suatu gaya bercerita yang coba dipraktikan oleh novelis di sini. Namun, bagi saya kehadiran data-data yang disajikan itu seolah-olah tidak alamiah. Tidak hadir dari keterlibatan yang intens dari seorang tokoh dalam cerita. Sehingga, novel ini terkesan seperti kolase dari klipingan koran yang dibingkai oleh cerita masyarakat Ampenan.

Padahal hidupnya Husin Nanang, Misbach, Misnah, Lumitha Sari, Vandessa, Tegar dan tokoh-tokoh lain—yang cukup banyak untuk disebutkan satu persatu— dalam cerita, bisa menggantikan peran narator untuk menyajikan data-data mengenai terjadinya ketimpangan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat di tingkat terbawah di negeri ini, khususnya di dalam setting cerita ini.

Dan Pulau Lombok yang eksotis, dengan pantai-pantainya yang sepi namun menjanjikan keindahan juga kebebasan itu, tentunya dapat menjadi latar yang seksi bagi prosa yang ditawarkan novelis. Sayangnya, deskripsi ruang mengenai Pulau Lombok pun kurang mendapatkan porsi yang banyak. Padahal, bagi pembaca seperti saya yang belum pernah ke Lombok tentu akan sangat menikmatinya. Meski, memang, sikap kritis terhadap ruang cerita selalu sangat menonjol disampaikan narator dari jalinan kisah yang diangkat novel ini.

Setidaknya, itulah kesan pertama saya setelah selesai membaca novel bongkok ini dalam waktu yang cukup tergesa-gesa. Di samping apa yang saya sampaikan di atas, banyak sekali pesan yang hendak disampaikan oleh novel ini. Di antaranya perenungan tentang institusi perkawinan, feodalisme, hingga yang kelihatan sangat mencolok mengenai kesejahteraan rakyat, dan nampak begitu menggelisahkan novelis yang menceritakannya dengan bahasa yang lugas. Sehingga, novel ini seperti lelaki yang memikul beban besar di punggungnya dengan hasrat heroik untuk melakukan perubahan, persis lelaki bongkok dalam lukisan, oleh karena itulah saya menyebut novel ini novel bongkok.

Sebagai karya pertama novelis, karya ini saya kira menarik untuk dibicarakan. Bukan saja lantaran perkara-perkara sensitif yang coba diungkapkan olehnya. Terlebih lagi adalah mengenai bagaimana novelis menyajikan karyanya kali ini dalam bentuk otentik sang novelis. Meski, untuk menguji kualitas novel ini tentu saja butuh waktu yang tidak tergesa-gesa.

*Catatan ini disampaikan pada diskusi/peluncuran novel ini di Kafe Eksplora, Bandung, 2 Februari 2011

Judul Buku: Medulla Sinculasis: Suatu Hari Di Bulan Desember
Penulis: Paox Iben
Penerbit: Irus
Harga: Rp 47.000

Catatan setelah Membaca Novel Bongkok

Oleh Yopi Setia Umbara

Membaca bagian pertama novel Medulla Sinculasis: Suatu Hari Di Bulan Desember (IruS, 2011) yang diberi sub judul “Bohemian Project”, saya mengira bahwa novel ini akan disesaki oleh fragmen-fragmen percintaan yang liar dan imajinatif. Bagaimana saya tidak mengira seperti itu, pada fragmen awal saja, Nuruda Fahbrani (kemudian lebih sering disebut Nuruda), terbangun dari tidurnya di salahsatu kamar sebuah cottage di dekat Pantai Malimbu dalam keadaan bugil, setelah semalaman hingga pagi ia terlibat percintaan dengan perempuan yang bukan istrinya.

Namun, perkiraan awal saya itu sangat jauh meleset setelah membaca keseluruhan isi novel yang disusun dalam lima bagian ini. Pada kenyataannya, novel ini justru lebih banyak mengamati dan mengomentari berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya, bahkan prilaku religi bangsa ini, khususnya di wilayah Pulau Lombok yang menjadi sebagian besar latar cerita. Lantaran, kisah percintaan tidak menjadi porsi cerita yang dominan. Nuruda, il protagonista dalam karya Paox Iben ini, lebih cenderung memusatkan energinya pada persoalan-persoalan yang telah disebutkan tadi.

Dengan bergaya realis, novel ini menyajikan pengamatan yang sangat kritis terhadap proses pembangunan di negeri ini. Pembangunan yang tentu saja melibatkan berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, pengusaha sebagai investor, dan tentu saja rakyat. Akan tetapi, pada prosesnya pembangunan itu seperti berjalan murung, dan tidak menjanjikan kesejahteraan pada rakyat. Segala keuntungan pembangunan itu, dalam pandangan narator novel ini, hanya dirasakan oleh para investor dan penguasa saja. Sementara rakyat tetap terperangkap dalam tempurung kebodohan dan jerat kemiskinannya.

Fakta tersebut menguak dalam novel ini dengan latar belakang yang beralasan, setidaknya bagi sang novelis. Memilih Nuruda yang pada mulanya aktivis Ornop (organisasi non pemerintah) dengan jaringan internasional. Namun kemudian frustasi dengan kenyataan, bahwa lembaga tempatnya bekerja tersebut tidak lebih daripada menguntungkan korporasi yang menjadi donor mereka saja. Hingga ia memutuskan keluar dari lembaga tempatnya bekerja, selain bertentangan dengan bosnya sendiri.

Pasca meninggalkan pekerjaan, di lembaga yang memberinya gaji sama dengan gaji seorang manajer bank swasta nasional itu, kemudian Nuruda hijrah ke Pulau Lombok. Tujuan dari Jakarta ke Lombok adalah untuk menemui seorang pelukis, yang dilatarbelakangi perjalanannya ke eropa hingga menyaksikan lelang lukisan untuk bantuan dana pemulihan bencana tsunami Aceh, di Den Haag, Belanda. Pada lelang lukisan itu Nuruda terpana oleh sebuah lukisan yang terjual seharga 300.000 Euro.

Lukisan itu berjudul “Medulla Sinculasis”, dan Husin Nanang adalah pelukis yang karyanya terjual sangat mahal itu. Medulla Sinculasis berasal dari istilah kedeokteran Medulla spinalis, yang kurang lebih merupakan tumor pada bagian tulang belakang manusia. Figur dalam lukisan itu pun adalah, seorang lelaki bongkok sedang tersnyum dengan penis menjuntai. Bagi Nuruda, lukisan itu seolah-olah berbicara banyak kepadanya.

Pada suatu kesempatan, Nuruda akhirnya sampai di Lombok, berwisata dan menyewa kamar di sebuah cottage. Hingga rasa cintanya diam-diam tumbuh terhadap Pulau di Provinsi Nusa Tenggara Barat itu. Ia pun memilih menetap di salahsatu sudut kota, dan tinggal di sebuah kontrakan butut. Di sana ia kemudian berkenalan dengan orang-orang yang terjerat kemiskinan, kesepian, bahkan dengan orang-orang yang rakus. Kemudian masa-masa ketegangan dalam hidup Nuruda seolah-olah terus berdatangan.

Berbekal kemampuan mengorganisasikan masyarakat selama bekerja di LSM, ia pun tergerak untuk menggalang sebuah gerakan. Gerakan yang ia mulai dengan jalur kesenian. Ia mengumpulkan beberapa orang yang telah dikenalnya untuk diberdayakan dengan meminjam sebuah gedung milik seorang Belanda untuk merintis sebuah galleri. Tapi apa mau dikata, sebelum upaya pemberdayaan itu betul-betul terbangun, Nuruda telah dijadikan target operasi oleh suatu pihak, lantaran tulisan dan wawancaranya di media massa mengenai rencana eksplorasi minyak bumi di daerah Satonda.

Pada suatu hari di bulan Desember, sebelum rencananya terealisasi, ia tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas yang telah direkayasa oleh pihak yang tidak suka atas kecerewetan Nuruda terhadap lingkungan.

Potensi novel ini saya kira luar biasa. Mulai berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya, hingga latar cerita yang sangat eksotis. Namun sayangnya, libido novelis untuk mengorek borok-borok persoalan akut beserta segala teori konspirasinya itu membuat narasi novel ini sering terganggu. Saya sendiri, sebagai pembaca terkadang kebingungan dengan loncatan narasi novelis. Pertukaran posisi antara narator dan tokoh begitu saru. Saya selalu kesulitan memilah sudut pandang tokoh dan narator yang serba tahu itu.

Mungkin ini adalah gaya baru penulisan sebuah novel. Ketika saya membaca narasi sang narator, saya seperti sedang menghadapi lembaran esai yang diselipkan dalam sebuah karya fiksi. Baiklah, jika ini suatu gaya bercerita yang coba dipraktikan oleh novelis di sini. Namun, bagi saya kehadiran data-data yang disajikan itu seolah-olah tidak alamiah. Tidak hadir dari keterlibatan yang intens dari seorang tokoh dalam cerita. Sehingga, novel ini terkesan seperti kolase dari klipingan koran yang dibingkai oleh cerita masyarakat Ampenan.

Padahal hidupnya Husin Nanang, Misbach, Misnah, Lumitha Sari, Vandessa, Tegar dan tokoh-tokoh lain—yang cukup banyak untuk disebutkan satu persatu— dalam cerita, bisa menggantikan peran narator untuk menyajikan data-data mengenai terjadinya ketimpangan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat di tingkat terbawah di negeri ini, khususnya di dalam setting cerita ini.

Dan Pulau Lombok yang eksotis, dengan pantai-pantainya yang sepi namun menjanjikan keindahan juga kebebasan itu, tentunya dapat menjadi latar yang seksi bagi prosa yang ditawarkan novelis. Sayangnya, deskripsi ruang mengenai Pulau Lombok pun kurang mendapatkan porsi yang banyak. Padahal, bagi pembaca seperti saya yang belum pernah ke Lombok tentu akan sangat menikmatinya. Meski, memang, sikap kritis terhadap ruang cerita selalu sangat menonjol disampaikan narator dari jalinan kisah yang diangkat novel ini.

Setidaknya, itulah kesan pertama saya setelah selesai membaca novel bongkok ini dalam waktu yang cukup tergesa-gesa. Di samping apa yang saya sampaikan di atas, banyak sekali pesan yang hendak disampaikan oleh novel ini. Di antaranya perenungan tentang institusi perkawinan, feodalisme, hingga yang kelihatan sangat mencolok mengenai kesejahteraan rakyat, dan nampak begitu menggelisahkan novelis yang menceritakannya dengan bahasa yang lugas. Sehingga, novel ini seperti lelaki yang memikul beban besar di punggungnya dengan hasrat heroik untuk melakukan perubahan, persis lelaki bongkok dalam lukisan, oleh karena itulah saya menyebut novel ini novel bongkok.

Sebagai karya pertama novelis, karya ini saya kira menarik untuk dibicarakan. Bukan saja lantaran perkara-perkara sensitif yang coba diungkapkan olehnya. Terlebih lagi adalah mengenai bagaimana novelis menyajikan karyanya kali ini dalam bentuk otentik sang novelis. Meski, untuk menguji kualitas novel ini tentu saja butuh waktu yang tidak tergesa-gesa.

Perihal yopisetiaumbara
penyair dan pecinta vespa

2 Tanggapan untuk Catatan Setelah Membaca Novel Bongkok

  1. panjiirfan mengatakan:

    Entah ya. Apakah menarik atau tidak novelnya bagi saya yang jelas Bung Yopi telah menuliskan sebuah resensi yang mengasyikkan untuk dibaca.

    Sudut pandang serba tahu muncul di soal UN SMP tahun ini. Saya sedikit kesulitan membedakan sudut pandang serba tahu dengan sudut pandang orang ketiga. Terima kasih pet!

  2. Sebuah masalah timbul seperti yang diuraikan melalui berbagai sudut pandang bahwa perbedaan antara teroris dan pejuang kebebasan tidak begitu jelas .

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.