Membaca “Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku” Mardi Luhung

Jika Anda mencari cerpen yang menyitir persoalan sosial, namun dituturkan dengan menyenangkan dan tidak membuat Anda merasa pusing. Maka, kumpulan cerpen Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku (Komodo Books, 2011) karya Mardi Luhung boleh jadi salah satu pilihan yang menarik. Mardi menyajikan sekumpulan cerita yang perhatiannya tidak hanya dipusatkan pada tokoh, penokohan, dan alur semata. Tetapi, Mardi akan senantiasa membiarkan Anda larut dalam suasana cerpen-cerpennya.

Selama ini Mardi Luhung lebih dikenal sebagai penyair daripada seorang cerpenis. Bahkan, lewat antologi puisi Buwun ia meraih Anugrah Khatulistiwa Literary Award 2010. Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku merupakan buku kumpulan cerpen pertama Mardi. Dalam buku ini, Mardi memamerkan kebolehannya membangun suasana lewat ketangkasannya berbahasa. Seperti juga dikatakan oleh Budi Darma, pengarang Olenka dan Orang-orang Bloomington, pada sampul bagian belakang buku ini, “…karena kepenyairannya, serangkaian suasana dalam cerpen ini bukan sembarang suasana, melainkan suasana yang menyenangkan.”

Buku ini dibagi dalam dua sub judul, Tembok dan Sepeda, dengan masing-masing berisikan enam cerpen. Barangkali, di antara Anda, ada yang pernah membaca karya-karya ini sebelumnya. Lantaran, kedua belas cerpen yang tersaji pernah dipublikasikan di beberapa media cetak di negeri ini sebelumnya. Judul buku ini sendiri diambil dari salah satu cerpen yang berjudul sama, “Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku”. Walau, sedikit bersifat dokumentasi, saya kira buku kumpulan cerpen ini tetap tidak kehilangan kontekstualitas dan kesenangannya.

Cerpen-cerpen Mardi dalam buku ini sesungguhnya tidak menonjolkan persoalan sosial sebagai kekuatan tema cerita. Tetapi kelebihan yang mencuat dari cerpen-cerpen Mardi adalah kemampuannya dalam menyajikan potret-potret persoalan sosial sebagai narasi yang riang. Persoalan sosial yang mungkin telah terekam sejak lama dalam memori Mardi dan tercurahkan kembali dalam setiap cerita dengan lugas.

Selain kekuatan narasi yang disajikan, Mardi nampak suka mencampur satir, surealis, dan tragedi-komedi sebagai unsur-unsur cerpennya. Gaya bahasa hiperbola agaknya mendominasi setiap cerita imanjinatif yang dituturkannya. Namun, di balik itu semua ia juga nampak menuturkan setiap cerita sebagai ironi dari kehidupan. Di samping itu, setiap cerita sepertinya benar-benar dapat dinikmati sekali duduk, sehingga tidak akan terlalu merenggut waktu Anda.

Cerpen “Tukang Cuci” menuturkan seorang tokoh suami bernama Tukang Cuci dengan begitu satir. “…Pekerjaan-ku tukang cuci. Dan sebagai tukang cuci, aku mencuci semua yang perlu untuk dicuci… Tapi, tunggu, tunggu dulu. Meski aku tukang cuci, aku bukan sembarang mencuci. Aku hanya mencuci pakaian istriku. Istriku yang kini telah menjelma ikan paus yang gemuk…” (hal. 98).

Begitulah pekerjaannya setiap hari adalah mencuci pakaian istrinya. Sambil mencuci ia mencaci bentuk tubuh istrinya, seperti pauslah atau gajahlah. Namun, ia tak dapat menghindar lagi dari pekerjaan itu. Ia terlanjur mencintai istrinya. Ia baru akan berhenti jika istrinya, yang suka mengoleksi boneka binatang laut, berteriak-teriak memanggilnya. Jika ia tak memenuhi keinginan istrinya, maka istrinya akan berlaku sangat kekanak-kanakan.

“Sore Ini, Sepedaku Menabrak Dinding” Cerpen yang cenderung bergaya surealis ini bermula dari tokoh yang menabrak dinding namun ia tak terguling, malah menembus dinding itu hingga terus mengayuh sepeda itu ke laut. Dari dalam tembok yang ia tembus, di dalam laut yang hijau, ia bertemu berbagai hal, bayangan, juga cerita, yang kesemuanya itu melampaui realitas.

Dalam setiap fragmen di dalam laut, si tokoh menghayati hidup, dunia, dan kehidupan, sambil terus mengayuh sepeda. Tanpa tahu apakah akan kembali ke dinding yang ditubruk sepedanya atau tidak. Meski terkesan pula intuisi kepenyairan Mardi pada cerpen ini. Sehinga cerpen ini menampakan spontanitas narasi sang pengarang.

Seperti, dengan tiba-tiba sang tokoh yang meracau tentang dunia teringat sebuah bencana lumpur, “Bagi yang beriman, dunia adalah kebohongan. Bagi yang tak beriman adalah petak umpet yang mengasyikan. Seperti petak umpet sumur bor yang tiba-tiba mengeluarkan Lumpur. Padahal, yang diburu bukan Lumpur. Kasihan. Kasihan sekali. He, he, he. Aku pun tertawa geli.” (hal. 62-63).

Namun begitu, narasi tersebut memperlihatkan kecermatan Mardi dalam melihat peristiwa, yang bisa jadi merujuk pada Bencana Lumpur di Porong, Sidoarjo. Dalam cerpen itu, Mardi tidak sekadar merenung-menuang kisah dengan murung. Melainkan, ia melihat dari sisi lain yang lebih menohok sebagai tragedi-komedi. Sehingga Anda tidak sekadar mengutuk penyebab bencana tersebut, tetapi juga dapat menertawakannya sekaligus.

Selain itu, pada fragmen tentang kapal angker, Mardi mengirim suasana mencekam bagi Anda, seperti ini “…Dan jika kau ingin tahu tentang kapal angker ini, bukalah jendelamu di malam hari. Tengoklah ke langit sebelah timur. Ke sebelah bintang yang mirip parang panjang. Parang yang lancip… Itulah bintang penentu jejak kapal angker. Jejak penentu yang selalu muncul, ketika angin tak bertiup. Dan orang-orang yang telah mati menyembul dari tanah. Seperti uap dan kabut kuning. Uap dan kabut kuning yang kerap membentuk bentuk-bentuk yang tak pernah kalian pikirkan.” (hal. 64-65).

Atau ada juga dua cerpen dengan latar cerita yang sama, yaitu “Tembok Pabrik” dan “Pohon Jambu” Berlatar sebuah kampung di pinggir laut dengan banyak gang yang dekat dengan tembok pabrik. Tembok pabrik yang menciptakan ketakutan bagi tokoh juga warga kampung.

“Tembok Pabrik” bercerita tentang seorang tokoh yang cemas dengan kampung istrinya. Sebuah kampung yang berada di pinggir laut yang dekat dengan tembok pabrik. Ia sering kesurupan dan bermimpi aneh tentang tembok pabrik itu. “…Banjir besar akan datang dan menyapu bumi. Kalimat yang jika aku metamorfosakan akan menjadi: cepat atau lambat, tembok pabrik akan menjarah kampung istriku” (hal. 12).

Phobia tokoh terhadap tembok pabrik juga sangat terasa pada cerpen “Pohon Jambu” Ketika pada suatu hari ia mendapatkan pohon jambu dari ibunya untuk dibawa dan ditanam di kampung istrinya. Namun, di sekitar kampung itu sudah tidak ada lagi lahan untuk menanam pohon jambu, lantaran tanah sudah tertutup tegel dan plester. Ada sebuah lahan di dekat pabrik yang tadinya hendak dibongkar tegelnya untuk ditanami pohon jambu, namun dilarang pejaga karena khawatir akar pohon jambu kelak merusak tembok pabrik itu. Akhirnya pohon jambu itu ditanam pada sebuah pot dan tumbuh dengan aneh. Daun-daunnya mengkilat seperti plastik, sementara batang dan akarnya kenyal dan tak mudah patah seperti logam. Tiba-tiba warga mendatangi rumahnya untuk melihat keanehan pohon jambu itu. Di dalam keriuhan, pohon jambu itu berkembang dan berubah sangat mencengangkan, “…di antara kekacauan yang terjadi ini, ternyata aku masih sempat melihat, bagaimana tiba-tiba saja akar logam jambu itu berubah menjadi sebatang panah raksasa. Kemudian melesat sangat cepat ke arah tembok pabrik yang ada di ujung sana!” (hal. 56).

Ironi-ironi persoalan sosial dan kehidupan kerap muncul dalam cerpen-cerpen Mardi, seperti juga dalam “Ibu Jangan Jadi Hantu”, “Kepompong”, “Menggonggong”, atau “Penghikayat Ular” Ironi yang ia balut dengan narasi riang, bahkan cenderung nakal dan suka sekali menertawakan hidup sebagai tragedi komedi. Seperti juga nampak pada cerpen “Kepalaku”, “Pengingkaran”, “Aku jatuh Cinta Lagi Pada Istriku”, atau “Perahuku”.

Cerpen-cerpen Mardi yang spontan dan menyenangkan ini tentu menarik dibaca, baik di saat Anda punya luang waktu, di sela-sela pekerjaan, di dalam angkutan umum, atau bahkan jika Anda ingin melenturkan ketegangan dari segala rutinitas yang menderas

Perihal yopisetiaumbara
penyair dan pecinta vespa

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.