Sepasang Ciuman
Desember 23, 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
Sepasang Ciuman dalam Hujan
dalam deras hujan di antara gelegar halilintar
yang terus bersahut-sahutan. kita berpelukan
gemetar bukan karena dingin. tapi ketakutan
dibayangi perpisahan. tentu sangat menyiksa
ketika jadi rindu. lalu tanpa ragu-ragu kita
saling mencium. seperti tak mungkin ada lagi
kesempatan. mempersembahkan sepasang
ciuman bagi pemilik waktu yang paling kudus
2011
Di Bordes Harina
di bordes yang jadi penyambung sekaligus
juga sebagai pemisah gerbong baja. sunyi
di atas kereta yang terus melaju. menjauh
dari kota tempat kita berciuman. di dalam
hujan paling deras. dan paling mengerikan
pada asap rokok kretek yang kuhisap. lalu
kuhembuskan seperti bernafas. di batas
antara kesadaran dan kelelahan. hanyalah
namamu yang masih mampu kuingat jelas
2011
Ciuman dan Perpisahan
telah kita persembahkan sepasang ciuman
kepada waktu. ciuman yang penuh gairah
juga kesat. bercampur aroma rokok kretek
dan teh yang kita minum. bukan lantaran
haus tapi karena harus. seperti kita selalu
penasaran pada makna. suatu pertemuan
begitu tergesa menjadi sebuah perpisahan
2011
Chonghai Song
di puncak sunyi bukit rawan penuh ilalang
di bawah megah langit malam. separuh
bulan perak tertutup awan. sebotol arak
kita teguk bersama. sebagai persembahan
bagi segala kesedihan. yang senantiasa
menjaga kita. setiap kali merasa kesepian
hidup seperti sendiri di negeri tanpa puisi
2011
Pada Sebuah Taman
di tepi kota yang terus memompa jantungnya
supaya berahi dan waktu tetap berdenyut. kita
berciuman. di balik bayang pohon juga daun
cemara. kita tertawa melihat gerombolan awan
gelap di langit selatan. serupa gelombang maut
bergulung. lalu menutup pucuk-pucuk gunung
di puncak sunyi bukit utara. kita hanya dengar
sajak ikan-ikan. dalam kolam tak pernah surut
juga gema daun-daun sesekali jatuh ke tanah
2011
Di Sungai Cikaengan
di antara batu bocah-bocah riang telanjang
berenang memecah sungai. menangkap ikan
dengan tangan. sinar matahari seperti sorot
mata mereka yang terang. menembus muka
sungai yang berkilauan. sepanjang arus
hembus angin. pada batang-batang bambu
juga desis alir air. membentur batu-batu
adalah musik yang terus mengiringi waktu
2011
Pada Sebuah Dermaga
pada sebuah dermaga kusandarkan keyakinan
padamu. seperti kusadari laut tetap lebih luas
daripada batas pengetahuan. tentang dunia
yang mesti takluk. di ujung kata-kata pusaka
sementara angin yang asin. terus mengibarkan
kesedihan. serupa bendera-bendera kusam
pada tiang-tiang perahu nelayan. yang setia
menyerahkan hidupnya pada kekuasaan laut
2011
Matahari Jingga Bandung Utara
matahari jingga bandung utara terbit
dari balik gigil bukit. menyingkap kabut
meluruhkan embun. menghangatkan
tanah-tanah basah. membangkitkan
segala harapan. menumbuhkan setiap
kerinduan yang tertanam. di jiwa
o, cahaya surya yang ceria. menjadi
pelipur segala duka lara pengembara
2011
Di Puncak Mercusuar Sembilangan
ternyata lapis langit pertama masih teramat jauh dijangkau
meski telah kucoba mendekati. melalui lorong mercusuar
paling sunyi. meniti setiap anak tangganya dengan berat
langkah yang menciptakan gema. pada sekujur ruang baja
diam-diam bunyi itu kembali. menyusup ke suluruh raga
hingga membuatku sangat gemetar. ketika sampai puncak
melihat selat yang rebah. di antara pulau madura dan jawa
menyadari laut dan tanah senantiasa tabah di bawah langit
2011