Alasan untuk Sebuah Ciuman

Cerita

Alasan untuk Sebuah Ciuman

 

Perlukah alasan untuk sebuah ciuman? Bukankah sesuatu yang tiba-tiba, bisa terjadi tanpa alasan?

Ciuman itu pun telah terjadi lama sekali. Ciuman bibirku dan bibirnya.

"Butuhkah Sebuah Alasan?" pencil on paper karya Rizqi Nur Amalliah

Ciuman yang tiba-tiba terjadi ketika percakapan kami di sebuah ruang yang sepi mendadak buntu.

Kami telah kehilangan topik. Seakan-akan semua hal telah kami bicarakan dan kami kupas sampai tuntas.

Lalu kami terdiam saling memandang. Mata kami beradu dan menduga-duga apa yang akan kami lakukan.

Kami saling bertatapan cukup lama. Seolah-olah waktu memberi kesempatan bagi kami berdua untuk menikmati kebuntuan.

Tanpa ada yang menggerakan. Jarak antara mata kami perlahan-lahan semakin dekat.

Tatapanku sepenuhnya hanya menatap matanya. Mata kiri menatap mata kanannya dan mata kanan menatap mata kirinya.

Hingga bibirku dapat merasakan bibirnya begitu dekat dengan bibirku. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya.

Nafas yang terhembus dari mulut dan hidungnya. Sementara mata kami tetap saling menatap.

“Bau rokok” katanya padaku, tanpa melepaskan pandangan matanya. Aku tak menghiraukan perkataannya.

Aku tetap mempertahankan tatapan mataku pada matanya. Aku tak mau kehilangan tatapannya.

Atau sebaliknya, aku tak sanggup menjawab. Lantaran mata dan diriku telah terkunci oleh tatapannya yang teduh namun kuat.

Sepasang tatapan yang tak mampu kuperkirakan kedalaman harapannya. Sepasang tatapan yang begitu murni.

Tentu saja di saat itu, aku juga tak punya kesempatan memikirkan apa yang ia pikirkan dengan tatapan mataku pada sepasang matanya.

Seluruh ruang menjadi sepi seutuhnya. Hanya mata kami yang tahu apa maksud di balik tatapan itu.

Diam-diam aku mulai merasakan debar yang berbeda pada tubuhku. Jantungku rasanya berdetak aneh.

Debar yang pelan-pelan menggetarkan seluruh tubuh. Debar yang kadang terjadi ketika aku merasa ketakutan dan bahagia.

Debar yang membuat aku kehilangan kendali diri. Debar yang aku suka sekaligus membuatku khawatir.

Sepenuhnya aku tak sanggup menguasai kesadaran saat bibirnya menempel begitu lekat pada bibirku.

Entah berapa lama bibirku bersentuhan dengan bibirnya. Pada saat itu rasanya bibirku ingin terus beradu dengan bibirnya.

Ciuman itu pula yang mengakhiri perjumpaanku dengannya di hari itu. Aku belum berjumpa lagi dengannya hingga saat ini.

Aku sangat merindukannya. Tentu saja aku juga kangen bercakap-cakap dengannya yang akhirnya mungkin akan buntu.

Namun, tadi malam ia mengirim pesan melalui telepon genggam. Sebuah pesan singkat berisi pertanyaan yang cukup pendek.

Akan tetapi, walau pertanyaannya cukup pendek. Aku tak punya cukup jawaban untuk pertanyaannya itu.

Dalam pesan singkat itu ia bertanya “Apa alasan kita berciuman?”


Perihal yopisetiaumbara
penyair dan pecinta vespa

Sebuah Tanggapan untuk Alasan untuk Sebuah Ciuman

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.