Saimun, Senja Di Jakarta

Saimun, Senja Di Jakarta
Oleh Yopi Setia Umbara

jilid muka

jilid muka

 

Membaca Senja Di Jakarta karya Mochtar Lubis di antara keramaian berita, mulai dari kasus korupsi yang melibatkan mantan bendahara partai demokrat hingga kasus pembunuhan petani di Mesuji, Lampung, tentu membuat saya terseret agak menjauh dari realitas yang heboh jadi pembicaraan. Senja Di Jakarta yang saya baca kembali merupakan cetakan kedua yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada tahun 2009.

Tokoh-tokoh yang hadir dalam novel dengan sembilan sub judul yang merupakan nama bulan, mulai dari Mei hingga Januari, adalah yang sangat menarik perhatian saya. Setiap tokoh yang diceritakan oleh orang ketiga tersebut seolah-olah diciptakan oleh Mochtar Lubis sebagai representasi dari lingkungan dan status sosialnya masing-masing. Salah satu tokoh yang paling menarik perhatian saya adalah tokoh Saimun. Baca tulisan ini lebih lanjut

Sekilas “Riwayat Negeri Debu”

Sekilas Riwayat Negeri Debu
Oleh Yopi Setia Umbara

jilid muka Riwayat Negeri Debu
Ketangkasan Jefta H. Atapeni dalam merekonstruksi pengalaman juga kedalaman pengetahuan, membuat puisi-puisinya begitu kaya referensi dan tentu saja nikmat untuk dihayati. Dalam antologi puisi Riwayat Negeri Debu (Kiara Publishing, 2011) ia menunjukan pula bagaimana keintimannya dengan bahasa. Kelihaiannya memadukan pengalaman dan kemampuannya berbahasa, menjadikan puisi-puisinya bukan sekadar pengalaman yang ditulis ulang. Melainkan, menjadi sebuah karya yang memiliki nilai estetis.

Di dalam setiap pengalaman Kakak Jefta yang kemudian berbunga puisi, ia menyuguhkan renungan-renung

Baca tulisan ini lebih lanjut

Membaca “Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku” Mardi Luhung

Jika Anda mencari cerpen yang menyitir persoalan sosial, namun dituturkan dengan menyenangkan dan tidak membuat Anda merasa pusing. Maka, kumpulan cerpen Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku (Komodo Books, 2011) karya Mardi Luhung boleh jadi salah satu pilihan yang menarik. Mardi menyajikan sekumpulan cerita yang perhatiannya tidak hanya dipusatkan pada tokoh, penokohan, dan alur semata. Tetapi, Mardi akan senantiasa membiarkan Anda larut dalam suasana cerpen-cerpennya.

Selama ini Mardi Luhung lebih dikenal sebagai penyair daripada seorang cerpenis. Bahkan, lewat antologi puisi Buwun ia meraih Anugrah Khatulistiwa Literary Award 2010. Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku merupakan buku kumpulan cerpen pertama Mardi. Dalam buku ini, Mardi memamerkan kebolehannya membangun suasana lewat ketangkasannya Baca tulisan ini lebih lanjut

Catatan Setelah Membaca Novel Bongkok

Catatan setelah Membaca Novel Bongkok*
Oleh Yopi Setia Umbara

Membaca bagianSampul depan Medulla Sinculasis: Suatu Hari Di Bulan Desember pertama novel Medulla Sinculasis: Suatu Hari Di Bulan Desember (IruS, 2011) yang diberi sub judul “Bohemian Project”, saya mengira bahwa novel ini akan disesaki oleh fragmen-fragmen percintaan yang liar dan imajinatif. Bagaimana saya tidak mengira seperti itu, pada fragmen awal saja, Nuruda Fahbrani (kemudian lebih sering disebut Nuruda), terbangun dari tidurnya di salahsatu kamar sebuah cottage di dekat Pantai Malimbu dalam keadaan bugil, setelah semalaman hingga pagi ia terlibat percintaan dengan perempuan yang bukan istrinya.

Namun, perkiraan awal saya itu sangat jauh meleset setelah membaca keseluruhan isi novel yang disusun dalam lima bagian ini. Pada kenyataannya, novel ini justru lebih banyak mengamati dan mengomentari berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya, bahkan prilaku religi bangsa ini, khususnya di wilayah Pulau Lombok Baca tulisan ini lebih lanjut

Apresiasi Puisi Nietzsche

(Pikiran Rakyat, Minggu, 3 Oktober 2010)

Apresiasi Puisi Nietzsche


Setelah sukses dengan seri puisi Jerman I-V, Berthold Damshäuser dan Agus R. Sarjono, kini kembali meluncurkan projek penerbitan buku puisi Jerman-Indonesia pada Senin, 27 September 2010. Kali ini, antologi seri puisi Jerman VI Syahwat Keabadian (Komodo Books, September 2010) karya Friedrich Nietzsche diluncurkan di Goethe Institut Bandung Jalan L.L.R.E. Martadinata.

Pada malam itu, selain membahas antologi seri puisi Jerman VI Syahwat Keabadian, Berthold Damshäuser dan Agus R. Sarjono, yang merupakan penerjemah dan editor seri puisi Jerman itu, juga tampil membacakan beberapa puisi karya Nietzsche. Berthold membacakan karya Nietzsche yang di antaranya dengan bahasa aslinya Jerman. Sementara Agus R. Sardjono membacakan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Baca tulisan ini lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.