<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Yopisetiaumbara's Weblog</title>
	<atom:link href="http://yopisetiaumbara.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yopisetiaumbara.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 07:26:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='yopisetiaumbara.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Yopisetiaumbara's Weblog</title>
		<link>http://yopisetiaumbara.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://yopisetiaumbara.wordpress.com/osd.xml" title="Yopisetiaumbara&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://yopisetiaumbara.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Alasan untuk Sebuah Ciuman</title>
		<link>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2012/01/27/alasan-untuk-sebuah-ciuman/</link>
		<comments>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2012/01/27/alasan-untuk-sebuah-ciuman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 07:02:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yopisetiaumbara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yopisetiaumbara.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Alasan untuk Sebuah Ciuman &#160; Perlukah alasan untuk sebuah ciuman? Bukankah sesuatu yang tiba-tiba, bisa terjadi tanpa alasan? Ciuman itu pun telah terjadi lama sekali. Ciuman bibirku dan bibirnya. Ciuman yang tiba-tiba terjadi ketika percakapan kami di sebuah ruang yang sepi mendadak buntu. Kami telah kehilangan topik. Seakan-akan semua hal telah kami bicarakan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=168&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita</p>
<p><strong>Alasan untuk Sebuah Ciuman</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perlukah alasan untuk sebuah ciuman? Bukankah sesuatu yang tiba-tiba, bisa terjadi tanpa alasan?</p>
<p>Ciuman itu pun telah terjadi lama sekali. Ciuman bibirku dan bibirnya.</p>
<div id="attachment_169" class="wp-caption aligncenter" style="width: 256px"><a href="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2012/01/butuhkah-sebuah-alasan.jpg"><img class="size-medium wp-image-169" title="&quot;Butuhkah Sebuah Alasan?&quot; pencil on paper karya Rizqi Nur Amalliah" src="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2012/01/butuhkah-sebuah-alasan.jpg?w=246&#038;h=300" alt="" width="246" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">&quot;Butuhkah Sebuah Alasan?&quot; pencil on paper karya Rizqi Nur Amalliah</p></div>
<p>Ciuman yang tiba-tiba terjadi ketika percakapan kami di sebuah ruang yang sepi mendadak buntu.<span id="more-168"></span></p>
<p>Kami telah kehilangan topik. Seakan-akan semua hal telah kami bicarakan dan kami kupas sampai tuntas.</p>
<p>Lalu kami terdiam saling memandang. Mata kami beradu dan menduga-duga apa yang akan kami lakukan.</p>
<p>Kami saling bertatapan cukup lama. Seolah-olah waktu memberi kesempatan bagi kami berdua untuk menikmati kebuntuan.</p>
<p>Tanpa ada yang menggerakan. Jarak antara mata kami perlahan-lahan semakin dekat.</p>
<p>Tatapanku sepenuhnya hanya menatap matanya. Mata kiri menatap mata kanannya dan mata kanan menatap mata kirinya.</p>
<p>Hingga bibirku dapat merasakan bibirnya begitu dekat dengan bibirku. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya.</p>
<p>Nafas yang terhembus dari mulut dan hidungnya. Sementara mata kami tetap saling menatap.</p>
<p>“Bau rokok” katanya padaku, tanpa melepaskan pandangan matanya. Aku tak menghiraukan perkataannya.</p>
<p>Aku tetap mempertahankan tatapan mataku pada matanya. Aku tak mau kehilangan tatapannya.</p>
<p>Atau sebaliknya, aku tak sanggup menjawab. Lantaran mata dan diriku telah terkunci oleh tatapannya yang teduh namun kuat.</p>
<p>Sepasang tatapan yang tak mampu kuperkirakan kedalaman harapannya. Sepasang tatapan yang begitu murni.</p>
<p>Tentu saja di saat itu, aku juga tak punya kesempatan memikirkan apa yang ia pikirkan dengan tatapan mataku pada sepasang matanya.</p>
<p>Seluruh ruang menjadi sepi seutuhnya. Hanya mata kami yang tahu apa maksud di balik tatapan itu.</p>
<p>Diam-diam aku mulai merasakan debar yang berbeda pada tubuhku. Jantungku rasanya berdetak aneh.</p>
<p>Debar yang pelan-pelan menggetarkan seluruh tubuh. Debar yang kadang terjadi ketika aku merasa ketakutan dan bahagia.</p>
<p>Debar yang membuat aku kehilangan kendali diri. Debar yang aku suka sekaligus membuatku khawatir.</p>
<p>Sepenuhnya aku tak sanggup menguasai kesadaran saat bibirnya menempel begitu lekat pada bibirku.</p>
<p>Entah berapa lama bibirku bersentuhan dengan bibirnya. Pada saat itu rasanya bibirku ingin terus beradu dengan bibirnya.</p>
<p>Ciuman itu pula yang mengakhiri perjumpaanku dengannya di hari itu. Aku belum berjumpa lagi dengannya hingga saat ini.</p>
<p>Aku sangat merindukannya. Tentu saja aku juga kangen bercakap-cakap dengannya yang akhirnya mungkin akan buntu.</p>
<p>Namun, tadi malam ia mengirim pesan melalui telepon genggam. Sebuah pesan singkat berisi pertanyaan yang cukup pendek.</p>
<p>Akan tetapi, walau pertanyaannya cukup pendek. Aku tak punya cukup jawaban untuk pertanyaannya itu.</p>
<p>Dalam pesan singkat itu ia bertanya “Apa alasan kita berciuman?”</p>
<p><em><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yopisetiaumbara.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yopisetiaumbara.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yopisetiaumbara.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yopisetiaumbara.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=168&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2012/01/27/alasan-untuk-sebuah-ciuman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/911671824dccd483a53bfaf18e59be5b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yopisetiaumbara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2012/01/butuhkah-sebuah-alasan.jpg?w=246" medium="image">
			<media:title type="html">&#34;Butuhkah Sebuah Alasan?&#34; pencil on paper karya Rizqi Nur Amalliah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Panggilan Terakhir</title>
		<link>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2012/01/25/panggilan-terakhir/</link>
		<comments>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2012/01/25/panggilan-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 07:02:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yopisetiaumbara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yopisetiaumbara.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Cerita Panggilan Terakhir Nama saya tidak terlalu penting. Sebab saya tidak akan menceritakan diri saya di sini. Begitu juga dengan tempat kejadian. Lantaran bisa terjadi di mana saja. Pada suatu malam, lewat tengah malam tepatnya, tiba-tiba telepon genggam saya berdering. Di layar telepon genggam hanya muncul nomor telepon, tanpa nama. Saya ragu-ragu untuk menjawabnya. Ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=159&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita</p>
<p><strong>Panggilan Terakhir</strong></p>
<div id="attachment_166" class="wp-caption aligncenter" style="width: 292px"><a href="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2012/01/panggilan-terakhir.jpg"><img class="size-medium wp-image-166  " title="&quot;Panggilan Terakhir&quot; pencil on paper karya Rizqi Nur Amalliah" src="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2012/01/panggilan-terakhir.jpg?w=282&#038;h=300" alt="&quot;Panggilan Terakhir&quot; pencil on paper karya Rizqi Nur Amalliah" width="282" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">&quot;Panggilan Terakhir&quot; pencil on paper karya Rizqi Nur Amalliah</p></div>
<p>Nama saya tidak terlalu penting. Sebab saya tidak akan menceritakan diri saya di sini.</p>
<p>Begitu juga dengan tempat kejadian. Lantaran bisa terjadi di mana saja.</p>
<p>Pada suatu malam, lewat tengah malam tepatnya, tiba-tiba telepon genggam saya berdering.</p>
<p>Di layar telepon genggam hanya muncul nomor telepon, tanpa nama. Saya ragu-ragu untuk menjawabnya.</p>
<p>Ketika menimbang-nimbang untuk menjawab, panggilan itu berakhir tanpa sempat saya jawab terlebih dahulu.<span id="more-159"></span></p>
<p>Saya pun membiarkan telepon genggam tergeletak begitu saja di meja, di samping monitor komputer.</p>
<p>Namun tak lama, telepon genggam kembali berdering. Saya perhatikan nomor yang memanggil adalah nomor yang tak terjawab tadi.</p>
<p>Tanpa berpikir lama, saya pun mengangkat panggilan itu. Baru saya ucapkan “halo”, tiba-tiba panggilan diputuskan si pemanggil.</p>
<p>Saya mengira itu hanya kelakuan kawan-kawan saya yang iseng. Hingga panggilan aneh itu berulang berkali-kali.</p>
<p>Saya akhirnya tak mengganggap ulah sebagai iseng. Tapi, kini mengganggapnya sebagai gangguan.</p>
<p>Sampai saya terpancing untuk menelepon balik. Namun, tak dijawab oleh si pemanggil aneh itu.</p>
<p>Akhirnya saya mengirimkan pesan. Mulai dari bertanya siapa, hingga saya marah-marah karena merasa terganggu.</p>
<p>Dia, si pemanggil aneh itu, juga tak menjawab satu pun pesan yang saya kirim dengan bahasa santun hingga yang paling buruk.</p>
<p>Setelah pesan terakhir yang saya kirim, yang paling mengutuk, telepon saya tak menunjukan adanya pesan atau panggilan.</p>
<p>Saya cukup senang. Walau tetap agak kesal dan penasaran dengan orang yang menggunakan nomor itu.</p>
<p>Kurang lebih dua jam kemudian, nomor itu muncul kembali di layar telepon genggam saya. Saya membiarkannya.</p>
<p>Berulang-ulang dia memanggil dan saya biarkan. Akan tetapi dia pantang menyerah rupanya.</p>
<p>Dia terus memanggil. Saya pun mengalah dan menjawab panggilan itu dengan segala kesabaran.</p>
<p>“Halo” sapa saya. Tak ada jawaban selain hening dan dengung rendah sinyal telepon.</p>
<p>“Selamat malam” lanjut saya. Tetap ada jawaban selain hening dan dengung rendah sinyal telepon.</p>
<p>Saya tetap mencoba bersabar. Tapi, saya tidak mengucapkan apa pun, hanya menanti apa yang akan dikatakannya.</p>
<p>Saya pun dibuat terkejut bukan main dengan ucapannya. Walau terkejut, pada saat itu saya tak mengganggapnya serius.</p>
<p>Katanya, “aku akan bunuh diri”. Dari suaranya saya dapat menduga bahwa si pemanggil aneh itu adalah seorang perempuan.</p>
<p>Tentu saya tak peduli dengan ucapannya kala itu. Reaksi saya ketika itu hanya tertawa, menertawakannya.</p>
<p>Setelah mengucapkan “aku akan bunuh diri” perempuan pemanggil aneh itu mengakhiri panggilan.</p>
<p>Panggilan itu benar-benar menjadi panggilan terakhir yang dia lakukan.</p>
<p>Dia tak mengganggu saya lagi. Bahkan hingga pagi. Ulahnya dan tulisan yang belum selesai membuat saya tidak bisa tidur.</p>
<p>Lantaran panggilan-panggilannya membuat aktivitas menulis saya tertunda hingga menjelang pagi.</p>
<p>Dan saat pagi tiba, pagi itu menjadi pagi terburuk dalam hidup saya. Saya menjadi orang paling menyesal pagi itu.</p>
<p>Ketika saya membuka situs berita digital di internet. Sebuah update berita membuat saya sangat terpukul.</p>
<p>“Diduga Stress, Perempuan Loncat dari Lantai 15 hotel Bintang Lima” begitulah judul berita tersebut.</p>
<p>Perempuan itu tewas seketika di tempat kejadian, kepalanya membentur aspal hingga pecah berdarah.</p>
<p>Di kamar hotel tempatnya menginap, ditemukan sebotol minuman keras dan sobekan sebuah puisi saya yang dimuat di sebuah surat kabar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yopisetiaumbara.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yopisetiaumbara.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yopisetiaumbara.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yopisetiaumbara.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=159&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2012/01/25/panggilan-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/911671824dccd483a53bfaf18e59be5b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yopisetiaumbara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2012/01/panggilan-terakhir.jpg?w=282" medium="image">
			<media:title type="html">&#34;Panggilan Terakhir&#34; pencil on paper karya Rizqi Nur Amalliah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerah (Bandung Inikami Orcheska)</title>
		<link>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/12/29/cerah-bandung-inikami-orcheska/</link>
		<comments>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/12/29/cerah-bandung-inikami-orcheska/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 08:41:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yopisetiaumbara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yopisetiaumbara.wordpress.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Pencerahan ala Bandung Inikami Orcheska Oleh Yopi Setia Umbara Bandung Inikami Orcheska (BIO) sebuah band yang mengusung third wave ska juga kental dengan irama jazz semacam The Mighty-Mighty Bosstones, Reel Big Fish, Save Ferris, dan Sublime, pada pertengahan Desember (18/12/2011) merilis Extended Play (EP) pertama mereka yang diberi tajuk Get Ska (Produksi Whitecat Liar Record). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=155&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pencerahan ala Bandung Inikami Orcheska</strong></p>
<p><em>Oleh Yopi Setia Umbara</em></p>
<div id="attachment_156" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/12/unknown-album-27-12-2011-16-31-21.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-156" title="Cover Get Ska" src="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/12/unknown-album-27-12-2011-16-31-21.jpg?w=150&#038;h=150" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Get Ska</p></div>
<p>Bandung Inikami Orcheska (BIO) sebuah band yang mengusung <em>third wave ska</em> juga kental dengan irama<em> jazz</em> semacam The Mighty-Mighty Bosstones, Reel Big Fish, Save Ferris, dan Sublime, pada pertengahan Desember (18/12/2011) merilis <em>Extended Play</em> (EP) pertama mereka yang diberi tajuk <em>Get Ska </em>(Produksi Whitecat Liar Record).</p>
<p>Dalam <em>EP Get Ska</em>, BIO menyajikan lima buah lagu yang tak hanya menunjukan kemampuan dari segi musikalitas belaka. Tapi, lebih dari itu mereka juga tampak berupaya untuk menyajikan lirik yang bermakna bagi para penikmat musik, khususnya yang menggandrungi ska. “Cerah” yang menjadi <em>single </em>pertama mereka, merupakan salahsatu lagu yang menunjukan keseriusan mereka dalam menggarap lirik.</p>
<p><span id="more-155"></span></p>
<p><strong>Cerah</strong></p>
<p><em>Bandung Inikami Orcheska</em></p>
<p>Senyap menyergap cahaya murung mendung</p>
<p>Nyalakan lentara tenang dan terang</p>
<p>Simpan kidung rindu di dalam hati</p>
<p>Sedih sudah tak terasa</p>
<p>Terbayang simpul senyum merayu</p>
<p>Larut dalam cerita masa lalu</p>
<p>Mengepul asap perlahan-lahan hilang</p>
<p>Terlintas bayang indah rupanya</p>
<p>Pergi melayang ke angkasa</p>
<p>Mencapai langit luas tak terbatas</p>
<p>Rupa-rupa warna</p>
<p>Membaur menjadi pelangi</p>
<p>Melingkari mendung berubah</p>
<p>Cerah… cerah…</p>
<p>Bulir-bulir embun</p>
<p>Terbang menuju cakrawala</p>
<p>Menambal luka menggapai asa</p>
<p>Cerah… cerah…</p>
<p>Seperti puisi, lirik “Cerah” BIO cukup kuat menjaga irama dan bunyi, seperti dapat disimak pada <em>senyap menyergap</em>, <em>murung mendung</em>, <em>terang dan tenang</em>, <em>senyum merayu</em>, atau <em>luas tak terbatas</em>. Irama dan bunyi pada lirik tersebut menjadi sebuah kekuatan tersendiri dalam lagu ini, dan menjadi sangat nikmat disimak dengan iringan musik ska yang mereka mainkan.</p>
<p>Selain kekuatan pada kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa, di balik lagu “Cerah” BIO seperti menyisipkan harapan bagi para pendengarnya. Manakala <em>senyap menyergap cahaya murung mendung, </em>maka <em>nyalakan lentara tenang dan terang</em>. Mereka seolah-olah ingin mengatakan bahwa, di balik setiap masalah kita mampu mencari jalan keluar dengan mencari <em>lentara tenang dan terang</em>.<em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dalam <em>EP Get Ska </em>ini pula BIO menyanyikan sebuah puisi berjudul “Kupu-kupu Kaca” karya penyair Alm. Kriapur (1959-1987). Mereka merekam lagu ini secara istimewa. Dalam bentuk <em>live acoustic </em>dengan iringan gitar dan trompet, sehingga puisi yang dinyanyikan terasa lebih <em>waas</em>. Hal ini menunjukan bahwa, bisa jadi, mereka cukup terpegaruh oleh karya sastra (baca referensi) ketika menciptakan lirik “Cerah”.</p>
<p><strong>KUPU-KUPU KACA</strong></p>
<p>(Puisi karya alm. Kriapur)</p>
<p><em>Bandung Inikami Orcheska</em></p>
<p>Sehabis meninggalkan jejak kemarau lama</p>
<p>lalu kupu-kupu menjadi kaca</p>
<p>Aku makin mengerti keluh bumi ini</p>
<p>Malam menjadi jalan dan mencari pemilik diri</p>
<p>Juga terasa jiwa, memuat pedih lalu lenyap</p>
<p>Udara telah menutup semua peristiwa</p>
<p>dan suara ombak melimbur</p>
<p>Menggelepar di pinggir pagar yang meraj terbakar</p>
<p>Setiap menyusup dalam bumi kelam</p>
<p>Tangan-tangan mayat menjulur ke bulan</p>
<p>Kota yang bangkit karena hujan</p>
<p>Mengubur luas jaman</p>
<p>Ketelatenan BIO dalam menulis lirik “Cerah” saya kira bisa jadi sebuah pencerahan bagi para penikmat musik, di Bandung khususnya. Sebab, para penikmat musik hari ini terlalu didikte oleh produser-produser musik major dan televisi yang berorientasi pasar. Sebagai band arus bawah, tentunya mereka memiliki massa yang bisa menjadi pemercik pencerahan itu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yopisetiaumbara.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yopisetiaumbara.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yopisetiaumbara.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yopisetiaumbara.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=155&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/12/29/cerah-bandung-inikami-orcheska/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/911671824dccd483a53bfaf18e59be5b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yopisetiaumbara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/12/unknown-album-27-12-2011-16-31-21.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Get Ska</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepasang Ciuman</title>
		<link>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/12/23/chongai-song/</link>
		<comments>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/12/23/chongai-song/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 09:17:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yopisetiaumbara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yopisetiaumbara.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Sepasang Ciuman dalam Hujan dalam deras hujan di antara gelegar halilintar yang terus bersahut-sahutan. kita berpelukan gemetar bukan karena dingin. tapi ketakutan dibayangi perpisahan. tentu sangat menyiksa ketika jadi rindu. lalu tanpa ragu-ragu kita saling mencium. seperti tak mungkin ada lagi kesempatan. mempersembahkan sepasang ciuman bagi pemilik waktu yang paling kudus 2011 Di Bordes Harina [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=140&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sepasang Ciuman dalam Hujan</strong></p>
<p>dalam deras hujan di antara gelegar halilintar<br />
yang terus bersahut-sahutan. kita berpelukan<br />
gemetar bukan karena dingin. tapi ketakutan<br />
dibayangi perpisahan. tentu sangat menyiksa<br />
ketika jadi rindu. lalu tanpa ragu-ragu kita<br />
saling mencium. seperti tak mungkin ada lagi<br />
kesempatan. mempersembahkan sepasang<br />
ciuman bagi pemilik waktu yang paling kudus</p>
<p>2011</p>
<p><strong>Di Bordes Harina</strong></p>
<p>di bordes yang jadi penyambung sekaligus<br />
juga sebagai pemisah gerbong baja. sunyi<br />
di atas kereta yang terus melaju. menjauh<span id="more-140"></span><br />
dari kota tempat kita berciuman. di dalam<br />
hujan paling deras. dan paling mengerikan<br />
pada asap rokok kretek yang kuhisap. lalu<br />
kuhembuskan seperti bernafas. di batas<br />
antara kesadaran dan kelelahan. hanyalah<br />
namamu yang masih mampu kuingat jelas</p>
<p>2011</p>
<p><strong>Ciuman dan Perpisahan</strong></p>
<p>telah kita persembahkan sepasang ciuman<br />
kepada waktu. ciuman yang penuh gairah<br />
juga kesat. bercampur aroma rokok kretek<br />
dan teh yang kita minum. bukan lantaran<br />
haus tapi karena harus. seperti kita selalu<br />
penasaran pada makna. suatu pertemuan<br />
begitu tergesa menjadi sebuah perpisahan</p>
<p>2011<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Chonghai Song</strong></p>
<p>di puncak sunyi bukit rawan penuh ilalang<br />
di bawah megah langit malam. separuh<br />
bulan perak tertutup awan. sebotol arak<br />
kita teguk bersama. sebagai persembahan<br />
bagi segala kesedihan. yang senantiasa<br />
menjaga kita. setiap kali merasa kesepian<br />
hidup seperti sendiri di negeri tanpa puisi</p>
<p>2011</p>
<p><strong>Pada Sebuah Taman</strong></p>
<p>di tepi kota yang terus memompa jantungnya<br />
supaya berahi dan waktu tetap berdenyut. kita<br />
berciuman. di balik bayang pohon juga daun<br />
cemara. kita tertawa melihat gerombolan awan<br />
gelap di langit selatan. serupa gelombang maut<br />
bergulung. lalu menutup pucuk-pucuk gunung<br />
di puncak sunyi bukit utara. kita hanya dengar<br />
sajak ikan-ikan. dalam kolam tak pernah surut<br />
juga gema daun-daun sesekali jatuh ke tanah</p>
<p>2011</p>
<p><strong>Di Sungai Cikaengan</strong></p>
<p>di antara batu bocah-bocah riang telanjang<br />
berenang memecah sungai. menangkap ikan<br />
dengan tangan. sinar matahari seperti sorot<br />
mata mereka yang terang. menembus muka<br />
sungai yang berkilauan. sepanjang arus<br />
hembus angin. pada batang-batang bambu<br />
juga desis alir air. membentur batu-batu<br />
adalah musik yang terus mengiringi waktu</p>
<p>2011<br />
<strong>Pada Sebuah Dermaga</strong></p>
<p>pada sebuah dermaga kusandarkan keyakinan<br />
padamu. seperti kusadari laut tetap lebih luas<br />
daripada batas pengetahuan. tentang dunia<br />
yang mesti takluk. di ujung kata-kata pusaka<br />
sementara angin yang asin. terus mengibarkan<br />
kesedihan. serupa bendera-bendera kusam<br />
pada tiang-tiang perahu nelayan. yang setia<br />
menyerahkan hidupnya pada kekuasaan laut</p>
<p>2011</p>
<p><strong>Matahari Jingga Bandung Utara</strong></p>
<p>matahari jingga bandung utara terbit<br />
dari balik gigil bukit. menyingkap kabut<br />
meluruhkan embun. menghangatkan<br />
tanah-tanah basah. membangkitkan<br />
segala harapan. menumbuhkan setiap<br />
kerinduan yang tertanam. di jiwa<br />
o, cahaya surya yang ceria. menjadi<br />
pelipur segala duka lara pengembara</p>
<p>2011</p>
<p><strong>Di Puncak Mercusuar Sembilangan</strong></p>
<p>ternyata lapis langit pertama masih teramat jauh dijangkau<br />
meski telah kucoba mendekati. melalui lorong mercusuar<br />
paling sunyi. meniti setiap anak tangganya dengan berat<br />
langkah yang menciptakan gema. pada sekujur ruang baja<br />
diam-diam bunyi itu kembali. menyusup ke suluruh raga<br />
hingga membuatku sangat gemetar. ketika sampai puncak<br />
melihat selat yang rebah. di antara pulau madura dan jawa<br />
menyadari laut dan tanah senantiasa tabah di bawah langit</p>
<p>2011</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yopisetiaumbara.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yopisetiaumbara.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yopisetiaumbara.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yopisetiaumbara.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=140&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/12/23/chongai-song/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/911671824dccd483a53bfaf18e59be5b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yopisetiaumbara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saimun, Senja Di Jakarta</title>
		<link>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/12/23/saimun-senja-di-jakarta/</link>
		<comments>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/12/23/saimun-senja-di-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 08:31:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yopisetiaumbara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yopisetiaumbara.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Saimun, Senja Di Jakarta Oleh Yopi Setia Umbara &#160; Membaca Senja Di Jakarta karya Mochtar Lubis di antara keramaian berita, mulai dari kasus korupsi yang melibatkan mantan bendahara partai demokrat hingga kasus pembunuhan petani di Mesuji, Lampung, tentu membuat saya terseret agak menjauh dari realitas yang heboh jadi pembicaraan. Senja Di Jakarta yang saya baca [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=132&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Saimun, Senja Di Jakarta</strong><br />
Oleh Yopi Setia Umbara</p>
<div id="attachment_138" class="wp-caption alignleft" style="width: 117px"><a href="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/12/2011-12-23-13-49-561.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-138" title="jilid muka" src="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/12/2011-12-23-13-49-561.jpg?w=107&#038;h=150" alt="jilid muka" width="107" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">jilid muka</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Membaca <em>Senja Di Jakarta</em> karya Mochtar Lubis di antara keramaian berita, mulai dari kasus korupsi yang melibatkan mantan bendahara partai demokrat hingga kasus pembunuhan petani di Mesuji, Lampung, tentu membuat saya terseret agak menjauh dari realitas yang heboh jadi pembicaraan. Senja Di Jakarta yang saya baca kembali merupakan cetakan kedua yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia pada tahun 2009.</p>
<p>Tokoh-tokoh yang hadir dalam novel dengan sembilan sub judul yang merupakan nama bulan, mulai dari Mei hingga Januari, adalah yang sangat menarik perhatian saya. Setiap tokoh yang diceritakan oleh orang ketiga tersebut seolah-olah diciptakan oleh Mochtar Lubis sebagai representasi dari lingkungan dan status sosialnya masing-masing. Salah satu tokoh yang paling menarik perhatian saya adalah tokoh Saimun.<span id="more-132"></span></p>
<p>Saimun merupakan tokoh yang dikisahkan di pembuka novel ini. Seorang pekerja serabutan di tempat pembuangan sampah. Saimun sampai di tempat tersebut setelah kabur dari kampungnya yang mengalami kekacauan akibat pemberontak. Di Jakarta dan tanpa pendidikan membuatnya terpaksa bekerja serabutan di tempat pembuangan sampah. Saimun punya keinginan merubah nasibnya, akan tetapi senantiasa merasa rendah diri dan inferior sebagai orang yang berasal dari kampung dan tanpa kemampuan khusus.</p>
<p>Hanya cinta Saimun pada Neneng, gadis desa yang terpaksa menjadi pelacur di Jakarta, yang membuatnya punya keberanian. Seperti ia tunjukan di kantor polisi, ketika Neneng tertangkap dalam razia wanita malam yang dilakukan polisi. Ia berani mengambil resiko mengakui Neneng sebagai bininya demi membebaskan Neneng dari kantor polisi.</p>
<p>Aksi Saimun di kantor polisi tersebut, merupakan satu-satunya aksi paling heroik yang dilakukan Saimun dalam novel ini. Selebihnya ia hidup dalam kesusahan yang tak berkesudahan. Sebagai pekerja serabutan di tempat pembuangan sampah, penghasilan Saimun sangat jauh dari cukup. Setiap kali mendapat upah, saat itu juga upahnya habis digunakan untuk menutup utang. Begitu setiap waktu berulang-ulang. Kebahagian ia hanyalah ketika bisa menikmati sebatang rokok kretek dan membiarkan lamunannya melayang ke kampung halaman yang sangat dirindukannya.</p>
<p>Walau demikian, Saimun selalu mengupayakan hal-hal sederhana untuk merubah nasibnya. Ia belajar menyetir kepada supir truk sampah dengan konsekuensi mau mencuci truk itu setiap hari. Lantas ia pun punya cita-cita paling tinggi, yaitu menjadi sopir oplet. Namun untuk menjadi sopir oplet butuh rebewes semacam Surat Ijin Mengendarai (SIM). Demi rebewes itu pula, ia belajar baca tulis.</p>
<p>Sampai pada suatu waktu, Saimun pergi ke kantor polisi untuk mengurus rebewes. Namun, di tempat itu ia terguncang, rasa rendah dirinya kembali menguasai dirinya. Ia merasa tidak pantas mendapat rebewes, ramainya orang-orang yang sama-sama mengantri membuatnya malu sendiri. Apalagi orang-orang tersebut berpakaian rapi, sedangkan ia hanya menggunakan celana pendek, dengan kemeja yang bolong punggungnya, dan tanpa alas kaki. Ia pun keluar meninggalkan kantor polisi dengan perasaan tak tentu. Barangkali, mimpinya jadi sopir oplet tak juga akan tercapai.</p>
<p>Selain Saimun, tokoh-tokoh dalam Senja Di Jakarta tampak senantiasa melakukan sesuatu yang tak dikehendaki hati nuraninya. Misalkan Suryono, lantaran antipati pada lingkungan kerjanya di Kementrian Luar Negeri tak memuaskannya, dan jauh berbeda dari gaya hidup New York di mana ia pernah tinggal, dia meninggalkan tempat kerjanya lalu berkongsi dengan ayahnya Raden Kaslan mendirikan perusahaan ekspor impor fiktif.</p>
<p>Pendirian perusahaan ekspor impor fiktif itu sendiri dilatari oleh kebutuhan partai yang melibatkan Raden Kaslan, seorang pengusaha yang mencintai uang. Pada saat itu partai sedang butuh banyak uang untuk pemenangan pemilu berikutnya. Uang-uang untuk membangun perusahaan fiktif itu sendiri berasal dari pinjaman kepada negara. Sementara rakyat pada saat itu sedang hidup kesusahan.</p>
<p>Ada lagi tokoh bernama Sugeng, pegawai negeri sipil dengan gaji pas-pasan, lantaran terdesak istrinya yang menginginkan punya rumah, ia terpaksa melakukan korupsi karena memiliki kesempatan. Dia juga tiba-tiba terlibat dengan Suryono dalam pendirian perusahaan fiktif. Sebelum akhirnya menyadari kesalahan langkah yang dia pilih.</p>
<p>Korupsi, konspirasi, dan ketidakpedulian pada hati nurani adalah narasi S<em>enja Di Jakarta</em> yang masih cukup kontekstual dengan kondisi negeri hari ini. Novel ini sendiri pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul Twilight in Jakarta (1963).</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yopisetiaumbara.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yopisetiaumbara.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yopisetiaumbara.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yopisetiaumbara.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=132&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/12/23/saimun-senja-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/911671824dccd483a53bfaf18e59be5b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yopisetiaumbara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/12/2011-12-23-13-49-561.jpg?w=107" medium="image">
			<media:title type="html">jilid muka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekilas &#8220;Riwayat Negeri Debu&#8221;</title>
		<link>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/12/13/sekilas-riwayat-negeri-debu/</link>
		<comments>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/12/13/sekilas-riwayat-negeri-debu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 08:10:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yopisetiaumbara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yopisetiaumbara.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Sekilas Riwayat Negeri Debu Oleh Yopi Setia Umbara Ketangkasan Jefta H. Atapeni dalam merekonstruksi pengalaman juga kedalaman pengetahuan, membuat puisi-puisinya begitu kaya referensi dan tentu saja nikmat untuk dihayati. Dalam antologi puisi Riwayat Negeri Debu (Kiara Publishing, 2011) ia menunjukan pula bagaimana keintimannya dengan bahasa. Kelihaiannya memadukan pengalaman dan kemampuannya berbahasa, menjadikan puisi-puisinya bukan sekadar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=124&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sekilas Riwayat Negeri Debu</strong><br />
<em>Oleh Yopi Setia Umbara</em></p>
<p><a href="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/12/322850_2559614763974_1662193830_2343569_197083432_o.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-125" title="jilid muka Riwayat Negeri Debu (Kiara, 2011)" src="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/12/322850_2559614763974_1662193830_2343569_197083432_o.jpg?w=112&#038;h=150" alt="jilid muka Riwayat Negeri Debu" width="112" height="150" /></a><br />
Ketangkasan Jefta H. Atapeni dalam merekonstruksi pengalaman juga kedalaman pengetahuan, membuat puisi-puisinya begitu kaya referensi dan tentu saja nikmat untuk dihayati. Dalam antologi puisi Riwayat Negeri Debu (Kiara Publishing, 2011) ia menunjukan pula bagaimana keintimannya dengan bahasa. Kelihaiannya memadukan pengalaman dan kemampuannya berbahasa, menjadikan puisi-puisinya bukan sekadar pengalaman yang ditulis ulang. Melainkan, menjadi sebuah karya yang memiliki nilai estetis.</p>
<p>Di dalam setiap pengalaman Kakak Jefta yang kemudian berbunga puisi, ia menyuguhkan renungan-renung</p>
<p><span id="more-124"></span></p>
<div>
<p>an tentang kehidupan. Pada setiap aku lirik dalam puisi-puisinya ia menimbang hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan tentu saja manusia dengan Tuhannya. Sehingga setiap pengalaman tersebut tampak sebagai kesadaran aku lirik sebagai mahluk sosial dan sebagai hamba Tuhan yang taat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seperti dalam puisi “Lanskap Hidup” (hal. 87) Kakak Jefta mencurahkan kegelisahan hidup manusia hidup laksana laut yang terbentang di mata/beriak, bergelora menerpa semua perahu/ dengan segala daya berlayar mencari hawa kedamaian//…di tengah laut semakin gelap dan pekik bergelora/ perahu-perahu terus berlayar/jala yang dilepas adalah doa dan mantra, iman dan sihir/dan matahari tinggal symbol untuk aku baca dan terka/dengan mata tertutup dan bibir terkatup…//…pada matahari yang padam, laut yang gelap/saat risau ini membatu/aku temui semua dunia lain dalam hymne dan wahyu:/bila tiba waktunya aku pun kembali berlabu/pada dermaga awan di tanganNya.</p>
<p>Pada puisi tersebut Kakak Jefta mengilustrasikan hidup laksana laut dengan manusia hanya sebagai bagian paling kecil dari sebuah kehidupan yang begitu luas. Aku lirik dalam puisi ini menunjukan pula kesadaran sebagai bagian kecil dari laut yang dilayarinya. Maka, dari kesadaran itulah, aku lirik pada “Lanskap Hidup” senantiasa berserah atas hymne dan wahyu. Sehingga bila tiba waktunya aku lirik akan kembali berlabu (mungkin maksudnya berlabuh) padaNya.</p>
<p>Selain kesadaran pada persoalan pokok manusia, Kakak Jefta juga menonjolkan sensitivitasnya sebagai penyair pada hal-hal yang eksotis dan misteri. Pada beberapa puisinya dapat dilihat bagaimana Kakak Jefta seringkali tersentuh oleh eksotisme sebuah tempat, atau sesuatu cerita di balik sebuah tempat yang pernah ia singgahi pada suatu waktu. Di mana bagi setiap penyair, sebuah tempat yang eksotis adalah berkah baginya untuk menciptakan karya. Atau, dengan kata lain, puisi selalu tiba-tiba mendatanginya dari tempat-tempat demikian.</p>
<p>Misalnya, pada puisi “Requiem Pantai Ketapang”, “Labirin Kota Karang”, atau bahkan pada puisi “Di Gunung Tengkorak”. Pada puisi-puisi tersebut, Kakak Jefta bukan hanya mengilustrasikan suasana tempat-tempat tersebut bagi pembaca, tapi lebih dari itu, sebagai penyair ia tampak mencoba berkomunikasi dengan lanskap, ruang, dan waktu di mana puisi hinggap padanya. Lantas setiap kata-kata yang tersusun dalam baris-baris puisinya menjadi refleksi bukan lagi sebatas impresi.</p>
<p>Di balik itu semua, pada sebagian puisi-puisinya tampak pula bahwa Kakak Jefta adalah penyair yang melakolis dan romantis. Kelembutan kata-kata khas para pecinta dapat dibaca pada puisi “Ziarah Puisi, Pengantin Hujan”, “Risau Alam Pegunungan”, atau “Kepada Langit Kepada Cahaya”. Tentu saja, bahwa puisi-puisi itu tidak sekadar ekspresi rasa cintanya pada arti yang sempit, akan tetapi suatu ekspresi cinta yang bermakna lebih luas. Walau, barangkali latar belakang puisi itu tercipta disebabkan adanya sosok-sosok tertentu.</p>
<p>Selain itu, Kakak Jefta juga tampak cukup gigih menciptakan puisi-puisi yang berdasarkan pada sejarah, cerita rakyat, atau sebuah legenda. Kegigihan seperti demikian tentu saja sangat menarik. Bahkan, Goethe sekali pun terpengaruh oleh teori Herder mengenai volkslied (lagu/puisi rakyat), sehingga membuat Goethe begitu terbuka pada kebinekaan khazanah sastra, pada semua genre, dan pada sastra semua bangsa.</p>
<p>Puisi “Mata dan Menara Kebebasan”, “Tragedi 1943”, atau “Cerita Lain Tentang Batu Badaun” adalah beberapa puisi yang berlatar belakang cerita rakyat, sejarah, dan legenda yang disajikan ulang dalam puisi oleh Kakak Jefta. Di mana dalam puisi-puisi tersebut, tentu saja diberikan sentuhan imajinasi. sehingga, puisi-puisi tersebut bukan jadi sekadar sebagai cerita yang ditulis ulang. Melainkan, menjadi sebuah karya yang menawarkan pemaknaan lain.</p>
<p>1. Sekilas Riwayat Negeri Debu, pengantar peluncuran antologi puisi Riwayat Negeri Debu karya Jefta H. Atapeni, disampaikan di Hall B Gd. FPBS UPI, Bandung, 7 Desember 2011</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yopisetiaumbara.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yopisetiaumbara.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yopisetiaumbara.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yopisetiaumbara.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=124&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/12/13/sekilas-riwayat-negeri-debu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/911671824dccd483a53bfaf18e59be5b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yopisetiaumbara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/12/322850_2559614763974_1662193830_2343569_197083432_o.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">jilid muka Riwayat Negeri Debu (Kiara, 2011)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membaca &#8220;Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku&#8221; Mardi Luhung</title>
		<link>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/07/21/membaca-aku-jatuh-cinta-lagi-pada-istriku-mardi-luhung/</link>
		<comments>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/07/21/membaca-aku-jatuh-cinta-lagi-pada-istriku-mardi-luhung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jul 2011 09:04:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yopisetiaumbara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yopisetiaumbara.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda mencari cerpen yang menyitir persoalan sosial, namun dituturkan dengan menyenangkan dan tidak membuat Anda merasa pusing. Maka, kumpulan cerpen Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku (Komodo Books, 2011) karya Mardi Luhung boleh jadi salah satu pilihan yang menarik. Mardi menyajikan sekumpulan cerita yang perhatiannya tidak hanya dipusatkan pada tokoh, penokohan, dan alur semata. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=92&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/07/sampul-depan.jpg"><img class="alignleft" title="Sampul Depan" src="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/07/sampul-depan.jpg?w=100&#038;h=150" alt="" width="100" height="150" /></a></p>
<p>Jika Anda mencari cerpen yang menyitir persoalan sosial, namun dituturkan dengan menyenangkan dan tidak membuat Anda merasa pusing. Maka, kumpulan cerpen Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku (Komodo Books, 2011) karya Mardi Luhung boleh jadi salah satu pilihan yang menarik. Mardi menyajikan sekumpulan cerita yang perhatiannya tidak hanya dipusatkan pada tokoh, penokohan, dan alur semata. Tetapi, Mardi akan senantiasa membiarkan Anda larut dalam suasana cerpen-cerpennya.</p>
<p>Selama ini Mardi Luhung lebih dikenal sebagai penyair daripada seorang cerpenis. Bahkan, lewat antologi puisi Buwun ia meraih Anugrah Khatulistiwa Literary Award 2010. Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku merupakan buku kumpulan cerpen pertama Mardi. Dalam buku ini, Mardi memamerkan kebolehannya membangun suasana lewat ketangkasannya<span id="more-92"></span> berbahasa. Seperti juga dikatakan oleh Budi Darma, pengarang Olenka dan Orang-orang Bloomington, pada sampul bagian belakang buku ini, “…karena kepenyairannya, serangkaian suasana dalam cerpen ini bukan sembarang suasana, melainkan suasana yang menyenangkan.”</p>
<p>Buku ini dibagi dalam dua sub judul, Tembok dan Sepeda, dengan masing-masing berisikan enam cerpen. Barangkali, di antara Anda, ada yang pernah membaca karya-karya ini sebelumnya. Lantaran, kedua belas cerpen yang tersaji pernah dipublikasikan di beberapa media cetak di negeri ini sebelumnya. Judul buku ini sendiri diambil dari salah satu cerpen yang berjudul sama, “Aku Jatuh Cinta Lagi Pada Istriku”. Walau, sedikit bersifat dokumentasi, saya kira buku kumpulan cerpen ini tetap tidak kehilangan kontekstualitas <!--more-->dan kesenangannya.</p>
<p>Cerpen-cerpen Mardi dalam buku ini sesungguhnya tidak menonjolkan persoalan sosial sebagai kekuatan tema cerita. Tetapi kelebihan yang mencuat dari cerpen-cerpen Mardi adalah kemampuannya dalam menyajikan potret-potret persoalan sosial sebagai narasi yang riang. Persoalan sosial yang mungkin telah terekam sejak lama dalam memori Mardi dan tercurahkan kembali dalam setiap cerita dengan lugas.</p>
<p>Selain kekuatan narasi yang disajikan, Mardi nampak suka mencampur satir, surealis, dan tragedi-komedi sebagai unsur-unsur cerpennya. Gaya bahasa hiperbola agaknya mendominasi setiap cerita imanjinatif yang dituturkannya. Namun, di balik itu semua ia juga nampak menuturkan setiap cerita sebagai ironi dari kehidupan. Di samping itu, setiap cerita sepertinya benar-benar dapat dinikmati sekali duduk, sehingga tidak akan terlalu merenggut waktu Anda.</p>
<p>Cerpen “Tukang Cuci” menuturkan seorang tokoh suami bernama Tukang Cuci dengan begitu satir. “…Pekerjaan-ku tukang cuci. Dan sebagai tukang cuci, aku mencuci semua yang perlu untuk dicuci… Tapi, tunggu, tunggu dulu. Meski aku tukang cuci, aku bukan sembarang mencuci. Aku hanya mencuci pakaian istriku. Istriku yang kini telah menjelma ikan paus yang gemuk…” (hal. 98).</p>
<p>Begitulah pekerjaannya setiap hari adalah mencuci pakaian istrinya. Sambil mencuci ia mencaci bentuk tubuh istrinya, seperti pauslah atau gajahlah. Namun, ia tak dapat menghindar lagi dari pekerjaan itu. Ia terlanjur mencintai istrinya. Ia baru akan berhenti jika istrinya, yang suka mengoleksi boneka binatang laut, berteriak-teriak memanggilnya. Jika ia tak memenuhi keinginan istrinya, maka istrinya akan berlaku sangat kekanak-kanakan.</p>
<p>“Sore Ini, Sepedaku Menabrak Dinding” Cerpen yang cenderung bergaya surealis ini bermula dari tokoh yang menabrak dinding namun ia tak terguling, malah menembus dinding itu hingga terus mengayuh sepeda itu ke laut. Dari dalam tembok yang ia tembus, di dalam laut yang hijau, ia bertemu berbagai hal, bayangan, juga cerita, yang kesemuanya itu melampaui realitas.</p>
<p>Dalam setiap fragmen di dalam laut, si tokoh menghayati hidup, dunia, dan kehidupan, sambil terus mengayuh sepeda. Tanpa tahu apakah akan kembali ke dinding yang ditubruk sepedanya atau tidak. Meski terkesan pula intuisi kepenyairan Mardi pada cerpen ini. Sehinga cerpen ini menampakan spontanitas narasi sang pengarang.</p>
<p>Seperti, dengan tiba-tiba sang tokoh yang meracau tentang dunia teringat sebuah bencana lumpur, “Bagi yang beriman, dunia adalah kebohongan. Bagi yang tak beriman adalah petak umpet yang mengasyikan. Seperti petak umpet sumur bor yang tiba-tiba mengeluarkan Lumpur. Padahal, yang diburu bukan Lumpur. Kasihan. Kasihan sekali. He, he, he. Aku pun tertawa geli.” (hal. 62-63).</p>
<p>Namun begitu, narasi tersebut memperlihatkan kecermatan Mardi dalam melihat peristiwa, yang bisa jadi merujuk pada Bencana Lumpur di Porong, Sidoarjo. Dalam cerpen itu, Mardi tidak sekadar merenung-menuang kisah dengan murung. Melainkan, ia melihat dari sisi lain yang lebih menohok sebagai tragedi-komedi. Sehingga Anda tidak sekadar mengutuk penyebab bencana tersebut, tetapi juga dapat menertawakannya sekaligus.</p>
<p>Selain itu, pada fragmen tentang kapal angker, Mardi mengirim suasana mencekam bagi Anda, seperti ini “…Dan jika kau ingin tahu tentang kapal angker ini, bukalah jendelamu di malam hari. Tengoklah ke langit sebelah timur. Ke sebelah bintang yang mirip parang panjang. Parang yang lancip… Itulah bintang penentu jejak kapal angker. Jejak penentu yang selalu muncul, ketika angin tak bertiup. Dan orang-orang yang telah mati menyembul dari tanah. Seperti uap dan kabut kuning. Uap dan kabut kuning yang kerap membentuk bentuk-bentuk yang tak pernah kalian pikirkan.” (hal. 64-65).</p>
<p>Atau ada juga dua cerpen dengan latar cerita yang sama, yaitu “Tembok Pabrik” dan “Pohon Jambu” Berlatar sebuah kampung di pinggir laut dengan banyak gang yang dekat dengan tembok pabrik. Tembok pabrik yang menciptakan ketakutan bagi tokoh juga warga kampung.</p>
<p>“Tembok Pabrik” bercerita tentang seorang tokoh yang cemas dengan kampung istrinya. Sebuah kampung yang berada di pinggir laut yang dekat dengan tembok pabrik. Ia sering kesurupan dan bermimpi aneh tentang tembok pabrik itu. “…Banjir besar akan datang dan menyapu bumi. Kalimat yang jika aku metamorfosakan akan menjadi: cepat atau lambat, tembok pabrik akan menjarah kampung istriku” (hal. 12).</p>
<p>Phobia tokoh terhadap tembok pabrik juga sangat terasa pada cerpen “Pohon Jambu” Ketika pada suatu hari ia mendapatkan pohon jambu dari ibunya untuk dibawa dan ditanam di kampung istrinya. Namun, di sekitar kampung itu sudah tidak ada lagi lahan untuk menanam pohon jambu, lantaran tanah sudah tertutup tegel dan plester. Ada sebuah lahan di dekat pabrik yang tadinya hendak dibongkar tegelnya untuk ditanami pohon jambu, namun dilarang pejaga karena khawatir akar pohon jambu kelak merusak tembok pabrik itu. Akhirnya pohon jambu itu ditanam pada sebuah pot dan tumbuh dengan aneh. Daun-daunnya mengkilat seperti plastik, sementara batang dan akarnya kenyal dan tak mudah patah seperti logam. Tiba-tiba warga mendatangi rumahnya untuk melihat keanehan pohon jambu itu. Di dalam keriuhan, pohon jambu itu berkembang dan berubah sangat mencengangkan, “…di antara kekacauan yang terjadi ini, ternyata aku masih sempat melihat, bagaimana tiba-tiba saja akar logam jambu itu berubah menjadi sebatang panah raksasa. Kemudian melesat sangat cepat ke arah tembok pabrik yang ada di ujung sana!” (hal. 56).</p>
<p>Ironi-ironi persoalan sosial dan kehidupan kerap muncul dalam cerpen-cerpen Mardi, seperti juga dalam “Ibu Jangan Jadi Hantu”, “Kepompong”, “Menggonggong”, atau “Penghikayat Ular” Ironi yang ia balut dengan narasi riang, bahkan cenderung nakal dan suka sekali menertawakan hidup sebagai tragedi komedi. Seperti juga nampak pada cerpen “Kepalaku”, “Pengingkaran”, “Aku jatuh Cinta Lagi Pada Istriku”, atau “Perahuku”.</p>
<p>Cerpen-cerpen Mardi yang spontan dan menyenangkan ini tentu menarik dibaca, baik di saat Anda punya luang waktu, di sela-sela pekerjaan, di dalam angkutan umum, atau bahkan jika Anda ingin melenturkan ketegangan dari segala rutinitas yang menderas</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yopisetiaumbara.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yopisetiaumbara.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yopisetiaumbara.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yopisetiaumbara.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=92&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/07/21/membaca-aku-jatuh-cinta-lagi-pada-istriku-mardi-luhung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/911671824dccd483a53bfaf18e59be5b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yopisetiaumbara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/07/sampul-depan.jpg?w=100" medium="image">
			<media:title type="html">Sampul Depan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Setelah Membaca Novel Bongkok</title>
		<link>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/02/03/catatan-setelah-membaca-novel-bongkok/</link>
		<comments>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/02/03/catatan-setelah-membaca-novel-bongkok/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Feb 2011 04:46:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yopisetiaumbara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yopisetiaumbara.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Catatan setelah Membaca Novel Bongkok* Oleh Yopi Setia Umbara Membaca bagian pertama novel Medulla Sinculasis: Suatu Hari Di Bulan Desember (IruS, 2011) yang diberi sub judul “Bohemian Project”, saya mengira bahwa novel ini akan disesaki oleh fragmen-fragmen percintaan yang liar dan imajinatif. Bagaimana saya tidak mengira seperti itu, pada fragmen awal saja, Nuruda Fahbrani (kemudian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=85&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Catatan setelah Membaca Novel Bongkok</strong>*<br />
<em>Oleh Yopi Setia Umbara </em></p>
<p>Membaca bagian<a href="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/02/img_1514.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-86" title="IMG_1514" src="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/02/img_1514.jpg?w=118&#038;h=178" alt="Sampul depan Medulla Sinculasis: Suatu Hari Di Bulan Desember" width="118" height="178" /></a> pertama novel <em>Medulla Sinculasis: Suatu Hari Di Bulan Desember</em> (IruS, 2011) yang diberi sub judul “Bohemian Project”, saya mengira bahwa novel ini akan disesaki oleh fragmen-fragmen percintaan yang liar dan imajinatif. Bagaimana saya tidak mengira seperti itu, pada fragmen awal saja, Nuruda Fahbrani (kemudian lebih sering disebut Nuruda), terbangun dari tidurnya di salahsatu kamar sebuah <em>cottage</em> di dekat Pantai Malimbu dalam keadaan bugil, setelah semalaman hingga pagi ia terlibat percintaan dengan perempuan yang bukan istrinya.<strong></strong></p>
<p>Namun, perkiraan awal saya itu sangat jauh meleset setelah membaca keseluruhan isi novel yang disusun dalam lima bagian ini. Pada kenyataannya, novel ini justru lebih banyak mengamati dan mengomentari berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya, bahkan prilaku religi bangsa ini, khususnya di wilayah Pulau Lombo<strong></strong>k <span id="more-85"></span>yang menjadi sebagian besar latar cerita. Lantaran, kisah percintaan tidak menjadi porsi cerita yang dominan. Nuruda, <em>il protagonista</em> dalam karya Paox Iben ini, lebih cenderung memusatkan energinya pada persoalan-persoalan yang telah disebutkan tadi.</p>
<p>Dengan bergaya realis, novel ini menyajikan pengamatan yang sangat kritis terhadap proses pembangunan di negeri ini. Pembangunan yang tentu saja melibatkan berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, pengusaha sebagai investor, dan tentu saja rakyat. Akan tetapi, pada prosesnya pembangunan itu seperti berjalan murung, dan tidak menjanjikan kesejahteraan pada rakyat. Segala keuntungan <strong></strong>pembangunan itu, dalam pandangan narator novel ini, hanya dirasakan oleh para investor dan penguasa saja. Sementara rakyat tetap terperangkap dalam tempurung kebodohan dan jerat kemiskinannya.</p>
<p>Fakta tersebut menguak dalam novel ini dengan latar belakang yang beralasan, setidaknya bagi sang novelis. Memilih Nuruda ya<strong></strong>ng pada mulanya aktivis Ornop (organisasi non pemerintah) dengan jaringan internasional. Namun kemudian frustasi dengan kenyataan, bahwa lembaga tempatnya bekerja tersebut tidak lebih daripada menguntungkan korporasi yang menjadi donor mereka saja. Hingga ia memutuskan keluar dari lembaga tempatnya bekerja, selain bertentangan dengan bosnya sendiri.</p>
<p>Pasca meninggalkan pekerjaan, di lembaga yang memberinya gaji sama dengan gaji seorang manajer bank swasta nasional itu, kemudian Nuruda hijrah ke Pulau Lombok. Tujuan dari Jakarta ke Lombok adalah untuk menemui seorang pelukis, yang dilatarbelakangi perjalanannya ke eropa hingga menyaksikan lelang lukisan untuk bantuan dana pemulihan bencana tsunami Aceh, di Den Haag, Belanda. Pada lelang lukisan itu Nuruda terpana oleh sebuah lukisan yang terjual seharga 300.000 Euro.</p>
<p>Lukisan itu berjudul “Medulla Sinculasis”, dan Husin Nanang adalah pelukis yang karyanya terjual sangat mahal itu. Medulla Sinculasis berasal dari istilah kedeokteran Medulla spinalis, yang kurang lebih merupakan tumor pada bagian tulang belakang manusia. Figur dalam lukisan itu pun adalah, seorang lelaki bongkok sedang tersnyum dengan penis menjuntai. Bagi Nuruda, lukisan itu seolah-olah berbicara banyak kepadanya.</p>
<p>Pada suatu kesempatan, Nuruda akhirnya sampai di Lombok, berwisata dan menyewa kamar di sebuah cottage. Hingga rasa cintanya diam-diam tumbuh terhadap Pulau di Provinsi Nusa Tenggara Barat itu. Ia pun memilih menetap di salahsatu sudut kota, dan tinggal di sebuah kontrakan butut. Di sana ia kemudian berkenalan dengan orang-orang yang terjerat kemiskinan, kesepian, bahkan dengan orang-orang yang rakus. Kemudian masa-masa ketegangan dalam hidup Nuruda seolah-olah terus berdatangan.</p>
<p>Berbekal kemampuan mengorganisasikan masyarakat selama bekerja di LSM, ia pun tergerak untuk menggalang sebuah gerakan. Gerakan yang ia mulai dengan jalur kesenian. Ia mengumpulkan beberapa orang yang telah dikenalnya untuk diberdayakan dengan meminjam sebuah gedung milik seorang Belanda untuk merintis sebuah galleri. Tapi apa mau dikata, sebelum upaya pemberdayaan itu betul-betul terbangun, Nuruda telah dijadikan target operasi oleh suatu pihak, lantaran tulisan dan wawancaranya di media massa mengenai rencana eksplorasi minyak bumi di daerah Satonda.</p>
<p>Pada suatu hari di bulan Desember, sebelum rencananya terealisasi, ia tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas yang telah direkayasa oleh pihak yang tidak suka atas kecerewetan Nuruda terhadap lingkungan.</p>
<p>Potensi novel ini saya kira luar biasa. Mulai berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya, hingga latar cerita yang sangat eksotis. Namun sayangnya, libido novelis untuk mengorek borok-borok persoalan akut beserta segala teori konspirasinya itu membuat narasi novel ini sering terganggu. Saya sendiri, sebagai pembaca terkadang kebingungan dengan loncatan narasi novelis. Pertukaran posisi antara narator dan tokoh begitu saru. Saya selalu kesulitan memilah sudut pandang tokoh dan narator yang serba tahu itu.</p>
<p>Mungkin ini adalah gaya baru penulisan sebuah novel. Ketika saya membaca narasi sang narator, saya seperti sedang menghadapi lembaran esai yang diselipkan dalam sebuah karya fiksi. Baiklah, jika ini suatu gaya bercerita yang coba dipraktikan oleh novelis di sini. Namun, bagi saya kehadiran data-data yang disajikan itu seolah-olah tidak alamiah. Tidak hadir dari keterlibatan yang intens dari seorang tokoh dalam cerita. Sehingga, novel ini terkesan seperti kolase dari klipingan koran yang dibingkai oleh cerita masyarakat Ampenan.</p>
<p>Padahal hidupnya Husin Nanang, Misbach, Misnah, Lumitha Sari, Vandessa, Tegar dan tokoh-tokoh lain—yang cukup banyak untuk disebutkan satu persatu— dalam cerita, bisa menggantikan peran narator untuk menyajikan data-data mengenai terjadinya ketimpangan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat di tingkat terbawah di negeri ini, khususnya di dalam setting cerita ini.</p>
<p>Dan Pulau Lombok yang eksotis, dengan pantai-pantainya yang sepi namun menjanjikan keindahan juga kebebasan itu, tentunya dapat menjadi latar yang seksi bagi prosa yang ditawarkan novelis. Sayangnya, deskripsi ruang mengenai Pulau Lombok pun kurang mendapatkan porsi yang banyak. Padahal, bagi pembaca seperti saya yang belum pernah ke Lombok tentu akan sangat menikmatinya. Meski, memang, sikap kritis terhadap ruang cerita selalu sangat menonjol disampaikan narator dari jalinan kisah yang diangkat novel ini.</p>
<p>Setidaknya, itulah kesan pertama saya setelah selesai membaca novel bongkok ini dalam waktu yang cukup tergesa-gesa. Di samping apa yang saya sampaikan di atas, banyak sekali pesan yang hendak disampaikan oleh novel ini. Di antaranya perenungan tentang institusi perkawinan, feodalisme, hingga yang kelihatan sangat mencolok mengenai kesejahteraan rakyat, dan nampak begitu menggelisahkan novelis yang menceritakannya dengan bahasa yang lugas. Sehingga, novel ini seperti lelaki yang memikul beban besar di punggungnya dengan hasrat heroik untuk melakukan perubahan, persis lelaki bongkok dalam lukisan, oleh karena itulah saya menyebut novel ini novel bongkok.</p>
<p>Sebagai karya pertama novelis, karya ini saya kira menarik untuk dibicarakan. Bukan saja lantaran perkara-perkara sensitif yang coba diungkapkan olehnya. Terlebih lagi adalah mengenai bagaimana novelis menyajikan karyanya kali ini dalam bentuk otentik sang novelis. Meski, untuk menguji kualitas novel ini tentu saja butuh waktu yang tidak tergesa-gesa.</p>
<p>*Catatan ini disampaikan pada diskusi/peluncuran novel ini di Kafe Eksplora, Bandung, 2 Februari 2011</p>
<p>Judul Buku: Medulla Sinculasis: Suatu Hari Di Bulan Desember<br />
Penulis: Paox Iben<br />
Penerbit: Irus<br />
Harga: Rp 47.000</p>
<div id="_mcePaste" class="mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;overflow:hidden;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  IN JA X-NONE               MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Catatan setelah Membaca Novel Bongkok</span></strong></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Oleh Yopi Setia Umbara</span></em></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Membaca bagian pertama novel <em>Medulla Sinculasis: Suatu Hari Di Bulan Desember</em> (IruS, 2011) yang diberi sub judul “Bohemian Project”, saya mengira bahwa novel ini akan disesaki oleh fragmen-fragmen percintaan yang liar dan imajinatif. Bagaimana saya tidak mengira seperti itu, pada fragmen awal saja, Nuruda Fahbrani (kemudian lebih sering disebut Nuruda), terbangun dari tidurnya di salahsatu kamar sebuah <em>cottage</em> di dekat Pantai Malimbu dalam keadaan bugil, setelah semalaman hingga pagi ia terlibat percintaan dengan perempuan yang bukan istrinya.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Namun, perkiraan awal saya itu sangat jauh meleset setelah membaca keseluruhan isi novel yang disusun dalam lima bagian ini. Pada kenyataannya, novel ini justru lebih banyak mengamati dan mengomentari berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya, bahkan prilaku religi bangsa ini, khususnya di wilayah Pulau Lombok yang menjadi sebagian besar latar cerita. Lantaran, kisah percintaan tidak menjadi porsi cerita yang dominan. Nuruda, <em>il protagonista</em> dalam karya Paox Iben ini, lebih cenderung memusatkan energinya pada persoalan-persoalan yang telah disebutkan tadi.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dengan bergaya realis, novel ini menyajikan pengamatan yang sangat kritis terhadap proses pembangunan di negeri ini. Pembangunan yang tentu saja melibatkan berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, pengusaha sebagai investor, dan tentu saja rakyat. Akan tetapi, pada prosesnya pembangunan itu seperti berjalan murung, dan tidak menjanjikan kesejahteraan pada rakyat. Segala keuntungan pembangunan itu, dalam pandangan narator novel ini, hanya dirasakan oleh para investor dan penguasa saja. Sementara rakyat tetap terperangkap dalam tempurung kebodohan dan jerat kemiskinannya.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Fakta tersebut menguak dalam novel ini dengan latar belakang yang beralasan, setidaknya bagi sang novelis. Memilih Nuruda yang pada mulanya aktivis Ornop (organisasi non pemerintah) dengan jaringan internasional. Namun kemudian frustasi dengan kenyataan, bahwa lembaga tempatnya bekerja tersebut tidak lebih daripada menguntungkan korporasi yang menjadi donor mereka saja. Hingga ia memutuskan keluar dari lembaga tempatnya bekerja, selain bertentangan dengan bosnya sendiri. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pasca meninggalkan pekerjaan, di lembaga yang memberinya gaji sama dengan gaji seorang manajer bank swasta nasional itu, kemudian Nuruda hijrah ke Pulau Lombok. Tujuan dari Jakarta ke Lombok adalah untuk menemui seorang pelukis, yang dilatarbelakangi perjalanannya ke eropa hingga menyaksikan lelang lukisan untuk bantuan dana pemulihan bencana tsunami Aceh, di Den Haag, Belanda. Pada lelang lukisan itu Nuruda terpana oleh sebuah lukisan yang terjual seharga 300.000 Euro. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lukisan itu berjudul “Medulla Sinculasis”, dan Husin Nanang adalah pelukis yang karyanya terjual sangat mahal itu. Medulla Sinculasis berasal dari istilah kedeokteran Medulla spinalis, yang kurang lebih merupakan tumor pada bagian tulang belakang manusia. Figur dalam lukisan itu pun adalah, seorang lelaki bongkok sedang tersnyum dengan penis menjuntai. Bagi Nuruda, lukisan itu seolah-olah berbicara banyak kepadanya.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pada suatu kesempatan, Nuruda akhirnya sampai di Lombok, berwisata dan menyewa kamar di sebuah <em>cottage</em>. Hingga rasa cintanya diam-diam tumbuh terhadap Pulau di Provinsi Nusa Tenggara Barat itu. Ia pun memilih menetap di salahsatu sudut kota, dan tinggal di sebuah kontrakan butut. Di sana ia kemudian berkenalan dengan orang-orang yang terjerat kemiskinan, kesepian, bahkan dengan orang-orang yang rakus. Kemudian masa-masa ketegangan dalam hidup Nuruda seolah-olah terus berdatangan.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Berbekal kemampuan mengorganisasikan masyarakat selama bekerja di LSM, ia pun tergerak untuk menggalang sebuah gerakan. Gerakan yang ia mulai dengan jalur kesenian. Ia mengumpulkan beberapa orang yang telah dikenalnya untuk diberdayakan dengan meminjam sebuah gedung milik seorang Belanda untuk merintis sebuah galleri. Tapi apa mau dikata, sebelum upaya pemberdayaan itu betul-betul terbangun, Nuruda telah dijadikan target operasi oleh suatu pihak, lantaran tulisan dan wawancaranya di media massa mengenai rencana eksplorasi minyak bumi di daerah Satonda. </span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pada suatu hari di bulan Desember, sebelum rencananya terealisasi, ia tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas yang telah direkayasa oleh pihak yang tidak suka atas kecerewetan Nuruda terhadap lingkungan.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Potensi novel ini saya kira luar biasa. Mulai berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya, hingga latar cerita yang sangat eksotis. Namun sayangnya, libido novelis untuk mengorek borok-borok persoalan akut beserta segala teori konspirasinya itu membuat narasi novel ini sering terganggu. Saya sendiri, sebagai pembaca terkadang kebingungan dengan loncatan narasi novelis. Pertukaran posisi antara narator dan tokoh begitu saru. Saya selalu kesulitan memilah sudut pandang tokoh dan narator yang serba tahu itu.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Mungkin ini adalah gaya baru penulisan sebuah novel. Ketika saya membaca narasi sang narator, saya seperti sedang menghadapi lembaran esai yang diselipkan dalam sebuah karya fiksi. Baiklah, jika ini suatu gaya bercerita yang coba dipraktikan oleh novelis di sini. Namun, bagi saya kehadiran data-data yang disajikan itu seolah-olah tidak alamiah. Tidak hadir dari keterlibatan yang intens dari seorang tokoh dalam cerita. Sehingga, novel ini terkesan seperti kolase dari klipingan koran yang dibingkai oleh cerita masyarakat Ampenan.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Padahal hidupnya Husin Nanang, Misbach, Misnah, Lumitha Sari, Vandessa, Tegar dan tokoh-tokoh lain—yang cukup banyak untuk disebutkan satu persatu— dalam cerita, bisa menggantikan peran narator untuk menyajikan data-data mengenai terjadinya ketimpangan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat di tingkat terbawah di negeri ini, khususnya di dalam <em>setting</em> cerita ini.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dan Pulau Lombok yang eksotis, dengan pantai-pantainya yang sepi namun menjanjikan keindahan juga kebebasan itu, tentunya dapat menjadi latar yang seksi bagi prosa yang ditawarkan novelis. Sayangnya, deskripsi ruang mengenai Pulau Lombok pun kurang mendapatkan porsi yang banyak. Padahal, bagi pembaca seperti saya yang belum pernah ke Lombok tentu akan sangat menikmatinya. Meski, memang, sikap kritis terhadap ruang cerita selalu sangat menonjol disampaikan narator dari jalinan kisah yang diangkat novel ini.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setidaknya, itulah kesan pertama saya setelah selesai membaca novel bongkok ini dalam waktu yang cukup tergesa-gesa. Di samping apa yang saya sampaikan di atas, banyak sekali pesan yang hendak disampaikan oleh novel ini. Di antaranya perenungan tentang institusi perkawinan, feodalisme, hingga yang kelihatan sangat mencolok mengenai kesejahteraan rakyat, dan nampak begitu menggelisahkan novelis yang menceritakannya dengan bahasa yang lugas. Sehingga, novel ini seperti lelaki yang memikul beban besar di punggungnya dengan hasrat heroik untuk melakukan perubahan, persis lelaki bongkok dalam lukisan, oleh karena itulah saya menyebut novel ini novel bongkok.</span></p>
<p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sebagai karya pertama novelis, karya ini saya kira menarik untuk dibicarakan. Bukan saja lantaran perkara-perkara sensitif yang coba diungkapkan olehnya. Terlebih lagi adalah mengenai bagaimana novelis menyajikan karyanya kali ini dalam bentuk otentik sang novelis. Meski, untuk menguji kualitas novel ini tentu saja butuh waktu yang tidak tergesa-gesa.</span></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yopisetiaumbara.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yopisetiaumbara.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yopisetiaumbara.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yopisetiaumbara.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=85&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2011/02/03/catatan-setelah-membaca-novel-bongkok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/911671824dccd483a53bfaf18e59be5b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yopisetiaumbara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yopisetiaumbara.files.wordpress.com/2011/02/img_1514.jpg?w=100" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_1514</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apresiasi Puisi Nietzsche</title>
		<link>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2010/10/04/apreiasi-puisi-nietzsche/</link>
		<comments>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2010/10/04/apreiasi-puisi-nietzsche/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Oct 2010 09:10:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yopisetiaumbara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yopisetiaumbara.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[(Pikiran Rakyat, Minggu, 3 Oktober 2010) Apresiasi Puisi Nietzsche Setelah sukses dengan seri puisi Jerman I-V, Berthold Damshäuser dan Agus R. Sarjono, kini kembali meluncurkan projek penerbitan buku puisi Jerman-Indonesia pada Senin, 27 September 2010. Kali ini, antologi seri puisi Jerman VI Syahwat Keabadian (Komodo Books, September 2010) karya Friedrich Nietzsche diluncurkan di Goethe Institut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=68&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Pikiran Rakyat, Minggu, 3 Oktober 2010)</p>
<p><strong>Apresiasi Puisi Nietzsche</strong></p>
<p><strong></strong><br />
Setelah sukses dengan seri puisi Jerman I-V, Berthold Damshäuser dan Agus R. Sarjono, kini kembali meluncurkan projek penerbitan buku puisi Jerman-Indonesia pada Senin, 27 September 2010. Kali ini, antologi seri puisi Jerman VI Syahwat Keabadian (Komodo Books, September 2010) karya Friedrich Nietzsche diluncurkan di Goethe Institut Bandung Jalan L.L.R.E. Martadinata.</p>
<p>Pada malam itu, selain membahas antologi seri puisi Jerman VI Syahwat Keabadian, Berthold Damshäuser dan Agus R. Sarjono, yang merupakan penerjemah dan editor seri puisi Jerman itu, juga tampil membacakan beberapa puisi karya Nietzsche. Berthold membacakan karya Nietzsche yang di antaranya dengan bahasa aslinya Jerman. Sementara Agus R. Sardjono membacakan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.<span id="more-68"></span></p>
<p>Berthold tampil cukup prima di hadapan tamu undangan terbuka, yang menghadiri launching buku tersebut. Puisi yang dibacakannya antara lain Nur Narr! Nur Dichter! atau Cuma Pandir! Cuma Penyair!, Die Sieben Siegel atau Tujuh Meterai, dan Die Sonne Sinkt atau Matahari Sedang Tenggelam. Pembacaan karya Nietzsche dalam bahasa aslinya merupakan salah satu rangkaian acara launching paling menarik bagi saya. Meskipun saya tidak menguasai bahasa Jerman, tetapi dengan pembacaan Berthold yang teliti dan sangat hati-hati menjadikan puisi Nietzsche nikmat untuk disimak.</p>
<p>Karya Nietzsche yang dibacakan Berthold menjadi tidak sekadar dibacakan, tetapi ia juga mampu menghadirkan unsur musikalitas dan irama dari puisi-puisi Nietzsche yang disajikan pada malam tersebut. Walau bagaimanapun, unsur musikalitas dan irama merupakan suatu bagian penting dalam puisi, selain tema dan pesan yang diusung dalam puisi.<br />
Selain penerjemah dan editor yang membacakan puisi-puisi karya Nietzsche, malam itu tampil pula Wawan Sofwan, aktor sekaligus dedengkot Mainteater Bandung. Plus Ari Kpin yang mengapresiasi karya Nietzsche dengan bentuk musikalisasi puisi.</p>
<p>Seperti juga Agus R. Sarjono, Wawan Sofwan membacakan puisi Nietzsche yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ketika itu Wawan Sofwan tampil membacakan &#8220;Nur Narr! Nur Dichter! atau Cuma Pandir! Cuma Penyair! di podium di atas panggung. Satu penampilan sederhana tentu saja, bagi seorang aktor yang sangat dikenal dengan karya-karya monolognya. Meskipun demikian, kesederhanaan penampilan Wawan Sofwan tidak mengurangi kekhusyukan hadirin yang menyimak pembacaannya.</p>
<p>Namun, terasa suatu perbedaan antara pembacaan puisi karya Nietzsche oleh Berthold dan Wawan Sofwan. Meskipun kedua orang tersebut sama-sama membacakan puisi Nietzsche di podium panggung. Perbedaan itu terasa sekali terutama pada bunyi musik dan irama dari puisi Nietzsche, ketika mereka membacakannya. Selain faktor bahasa, barangkali kedalaman pemahaman atas puisi Nietzsche berpengaruh kepada penampilan kedua orang tersebut.</p>
<p>Pembacaan puisi Nietzsche dalam bahasa aslinya yang dilakukan oleh Berthold terasa lebih dinamis. Penampilan Berthold didukung juga oleh kualitas vokalnya yang prima, sehingga karya Nietzsche menjadi lebih bergema di taman Goethe Institut Bandung kala itu. Sementara pembacaan Wawan Sofwan pada terjemahannya terasa kurang menggigit. Ditambah lagi ada satu atau dua kali Wawan Sofwan kacaletot, ketika membacakan puisi Nietzsche dari kumpulan Syahwat Keabadian tersebut.</p>
<p>Sementara itu, Ari Kpin menyajikan puisi Nietzsche yang berjudul Das trunken Lied atau Nyanyian Mabuk dan Vereinsamt atau Kesendirian dalam nuansa pop-balada. Ari menafsirkan puisi Nietzsche dengan bantuan gitar elektrik malam itu. Mengekspresikan satu puisi dalam satu genre musik, secara tidak langsung mempersempit penafsiran atas puisi. Sebab, puisi kemudian mesti berurusan dengan genre musik, demikian Agus R. Sardjono menanggapi. Namun, hal ini juga membuktikan bahwa puisi dapat diekspresikan dalam berbagai bentuk. Meskipun tidak terlalu istimewa, penampilan Ari Kpin cukup menghibur.</p>
<p>Penerjemahan</p>
<p>Menurut Berthold Damshäuser, penerjemahan karya-karya sastra Jerman terhadap bahasa asing ini membuat bahasa Jerman lebih berkembang. Oleh karena itu, penerjemahan puisi-puisi Nietzsche ke bahasa Indonesia ini juga merupakan upaya komunikasi di antara kedua bahasa tersebut, selain yang paling utama adalah mengenalkan puisi-puisi Nietzsche kepada publik. Apalagi, selama ini Nietzsche lebih dikenal sebagai pemikir bukan penyair.</p>
<p>Sementara mengenai adanya jarak bahasa ketika suatu karya sastra diterjemahkan, Berthold membenarkan hal tersebut. Bagaimanapun, dalam satu bahasa di dalamnya hidup kebudayaan satu bangsa. Ketika diterjemahkan ada hal-hal yang secara kontekstual tidak akan terdapat pada bahasa terjemahannya. Apalagi, dalam suatu karya sastra. Setiap bahasa memiliki idiom yang tidak mungkin diterjemahkan secara harfiah ke bahasa terjemahannya.<br />
Hal tersebut diamini oleh Agus R. Sarjono. Ketika terjadi perbedaan secara musikalitas antara bahasa Jerman dan bahasa Indonesia dalam puisi Nietzsche itu wajar saja. Dengan demikian, penerjemahan adalah strategi menyajikan pesan dari karya sastra kepada publik, yang tidak menggunakan bahasa asli karya tersebut.***</p>
<p>Yopi Setia Umbara, penyair</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yopisetiaumbara.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yopisetiaumbara.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yopisetiaumbara.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yopisetiaumbara.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=68&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2010/10/04/apreiasi-puisi-nietzsche/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/911671824dccd483a53bfaf18e59be5b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yopisetiaumbara</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kamar</title>
		<link>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2010/09/03/kamar/</link>
		<comments>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2010/09/03/kamar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 23:53:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yopisetiaumbara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sajak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yopisetiaumbara.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Saat Kita Telanjang kamar adalah tempat saat kita dapat sangat dekat telanjang tanpa kebohongan. yang biasa melekat menutup tubuh lugu. memaksa kita jadi orang lain karena setiap pakaian. tak pernah bermakna kejujuran maka, di sinilah kau dan aku. bisa membuka segala yang tersembunyi dalam diri. kemudian sama-sama memahami bentuk-bentuk. kehidupan yang lucu kadang menggemaskan. atau, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=74&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat Kita Telanjang</p>
<p>kamar adalah tempat saat kita dapat sangat dekat<br />
telanjang tanpa kebohongan. yang biasa melekat<br />
menutup tubuh lugu. memaksa kita jadi orang lain<br />
karena setiap pakaian. tak pernah bermakna kejujuran<br />
maka, di sinilah kau dan aku. bisa membuka segala<br />
yang tersembunyi dalam diri. kemudian sama-sama<br />
memahami bentuk-bentuk. kehidupan yang lucu<span id="more-74"></span><br />
kadang menggemaskan. atau, tiba-tiba begitu haru<br />
walau perlahan-lahan. tapi kita sanggup menyatu<br />
melepas keringat. membasahi tubuh masing-masing<br />
tanpa sehelai tabir yang menipu serupa perasaan ragu</p>
<p>2010</p>
<p>Pada Bau Tubuhmu</p>
<p>aku selalu gandrung. pada bau tubuh<br />
dari setiap peluhmu. yang merayap<br />
lalu memenuhi kamarku. serupa udara<br />
terus kuhirup. sebagai gairah hidup<br />
lebih merangsang. daripada sekadar<br />
ciuman. atau juga sentuhan-sentuhan<br />
pada kulit halus. setia membungkus<br />
dan utuh menjaga. jiwamu selalu<br />
perawan bagai perempuan suci mariam</p>
<p>2010</p>
<p>Di Negeri Ini, Aku Tak Sendirian</p>
<p>di negeri ini. lalu, mesti jauh dari dirimu, kekasihku<br />
aku merasakan hidup begitu sunyi. di televisi<br />
tak ada berita yang dapat kupercaya. sedangkan<br />
semua acara seragam. sungguh membosankan<br />
tak ada yang menghibur. sementara, mungkin aku<br />
tak sendirian. menyadari kekonyolan semacam ini<br />
jika saja kau tahu. bahwa aku sangat menderita<br />
aku berharap kita. dapat segera berjumpa kembali<br />
kemudian bercinta sampai letih. sepanjang hari<br />
hingga kau menjerit. dan aku dapat terbangun lagi<br />
dari buaian peradaban yang membuatku sekarat ini</p>
<p>2010</p>
<p>Dalam Perutku</p>
<p>maja, seandainya kau tahu. bahwa dalam perutku<br />
tank-tank siap menembak. tentara membidikan bedil<br />
juga rudal-rudal. dikendalikan jauh dari tubuhku<br />
siap menghancurkan apa saja. misalkan peperangan<br />
yang tak pernah kita mengerti. benar-benar terjadi<br />
kelak tubuhku tak kau kenal lagi. sebab pasti lebur<br />
bersama segala amuk. namun, aku belum sanggup<br />
meredam sengketa. meski, berpusat di perut sendiri<br />
hingga suatu saat. jika tetap tak dapat kau temukan<br />
sekadar bangkai diriku. diam-diam bacalah sajak ini<br />
bagi orang-orang yang telah letih melawan hidupnya</p>
<p>2010</p>
<p>Jamuan Sederhana</p>
<p>aku ingin waktu berujung. kekal di bibirmu<br />
supaya gerimis. terus membungkus malam<br />
dan kesunyian lebih terasa. manis setiap kali<br />
kukenang ciuman panjang ini. seperti hujan<br />
yang basah melumat tanah. mendekap tubuh<br />
hingga bibir kita makin lengket. seperti susu<br />
coklat kau sajikan. dalam jamuan sederhana<br />
di dalam kamar. tempat kita dapat sembunyi<br />
dari segala kabar burung tentang negeri kita</p>
<p>2010</p>
<p>Lagu Pemuja Malam</p>
<p>daun-daun cemara. tertiup samar-samar<br />
embun menimpa tanah. lalu bergema<br />
sampai ke pusat dada. sepi seperti kutukan<br />
tujuh turunan. menjelang tengah malam<br />
bau sisa hujan. masih saja tercium basah<br />
merayapi petang. bagai ribuan kelelewar<br />
memenuhi awang-awang. siapa berkeliaran<br />
dalam waktu gelap. serupa pengembara<br />
atau para penyair. terus mencari-cari bunyi<br />
pada setiap kata-kata. di tempat sunyi<br />
dan menduga-duga suara di ruang senyap</p>
<p>2010</p>
<p>Di Pelabuhan Cirebon</p>
<p>di sebuah bandar tua. perahu-perahu kayu bersandar<br />
setelah gelombang pasang. seperti pengembara lelah<br />
di sini sejarah niaga bermula. gudang-gudang peluru<br />
dibangun. aku kembali mampu mencium anyir darah<br />
tertiup angin laut yang asin. hingga luka-luka badan<br />
seperti terus disayat. hingga riwayat yang kuhayati<br />
terasa lebih perih. bahkan setiap senandung nelayan<br />
adalah rintihan merambat sampai ke jantung malam</p>
<p>2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yopisetiaumbara.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yopisetiaumbara.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yopisetiaumbara.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yopisetiaumbara.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yopisetiaumbara.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yopisetiaumbara.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yopisetiaumbara.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yopisetiaumbara.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yopisetiaumbara.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yopisetiaumbara.wordpress.com&amp;blog=3884343&amp;post=74&amp;subd=yopisetiaumbara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yopisetiaumbara.wordpress.com/2010/09/03/kamar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/911671824dccd483a53bfaf18e59be5b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yopisetiaumbara</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
